Ketika Kau Tahu

Ketika Kau Tahu

••○••○••○••

⚠ Riba itu haram
⚠ Tabarruj itu haram
⚠Safar tanpa mahrom itu haram
⚠ Berikhtilath (Bercampur baur laki-laki perempuan tanpa mahrom) itu haram
⚠ Musik itu haram
⚠ Zina itu haram
⚠ Khamr itu haram

👆🏿 Semua keharaman adalah larangan dari Allah, Bukan karangan manusia

❗ Maka sekali-kali kau tidak akan mengatakan orang yang menghindari keharaman tersebut, sebagai orang yang terlalu fanatik, extrem, gak asik, tidak bisa berbaur dan membatasi diri dengan lingkungan dan sebagainya

❗ Karena Haram tetaplah haram tidak akan dapat diubah menjadi halal.

→ Tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus menerus, tidak ada dosa kecil jika tidak ada rasa takut saat melakukannya dan tidak ada dosa besar jika terus bertaubat kepada Allah

🔎 Kenali agamamu, karena agama Islam bukan hanya mengatur hubungan bathinmu dengan Allah saja tapi menyangkut seluruh aspek kehidupan sampai bagaimana adab membuang hajat, bersin, menguap, makan, tidur seluruhnya diajarkan dalam agama Islam

🔎 Kenali dan pelajari agamamu, dengan begitu Kau akan diberikan jalan dan pemahaman sehingga dapat membedakan segala hukum dalam syariat.

🌿 Kelak Kau akan mengerti, bahwa tidak ada yang fanatik dalam beragama, ketika kau paham bahwa itu semua adalah konsekuensi yg harus kau jalankan saat kau tau hukum-hukumnya maka kau akan bersikap sami’na wa atho’na ( Kami dengar dan Kami taati ),

❗ Bukan kami dengar lalu kami timbang- timbang dulu dengan logika kami bila sesuai baru kami taati bila tidak sesuai maka kami abaikan, Tidak bukan seperti itu

→ Jadikan urusan dunia ada ditanganmu bukan dihatimu,
→ urusan akhirat sangatlah panjang,
→ waktu kita sangatlah singkat jika hanya dipakai memfokuskan diri pada dunia
→ Kejarlah Ridha Allah jangan tunggu besok tapi sekarang
→ Rezeki dan umur kita adalah apa yang kita nikmati detik ini, sedangkan detik berikutnya adalah rahasia Allah.

Wallahu a’lam bishowab

Adab Buang Ludah atau Dahak Sholat

🍃🌷 ADAB BUANG LUDAH ATAU DAHAK DALAM SHOLAT 🌷🍃
———————

Berikut ini bimbingan syariat dalam membuang ludah atau dahak ketika sedang sholat.

1⃣ Adab Pertama: Tidak boleh membuang ludah atau dahak tersebut ke arah kiblat atau sebelah kanan.
2⃣ Adab Kedua: Hendaklah Ia membuang ludah atau dahak ke bawah kaki kirinya, baju sebelah kiri, atau selendangnya.

💯 Dua hal ini berdasarkan hadits Jabir bin Abdillah rodhiyallahu ‘anhu , Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

إِنَّ أَحَدَكُمْ إِذَا قَامَ يُصَلِّي فَإِنَّ اللهَ تَبَارَكَ وَتَعَالَى قِبَلَ وَجْهِهِ، فَلاَ يَبْصُقَنَّ قِبَلَ وَجْهِهِ وَلاَ عَنْ يَمِيْنِهِ. وَلِيَبْصُقْ عَنْ يَسَـارِهِ تَحْتَ رِجْلِهِ الْيُسْرَى، فَإِنْ عَجِلَتْ بِهِ بَادِرَةٌ فَلْيَقُلْ بِثَوْبِهِ هكَذَا. ثُمَّ طَوَى ثَوْبَهُ بَعْضَهُ عَلَى بَعْضٍ.

”Sesungguhnya salah seorang di antara kalian; apabila sedang berdiri mengerjakan sholat; Allah -tabaroka wata’ala- ada di hadapannya.
Oleh karena itu, Janganlah ia meludah ke depan (ke arah kiblat, pen.) atau ke sebelah kanannya. Hendaklah ia meludah ke sebelah kiri; di bawah kaki kirinya.
Apabila ia harus segera mengeluarkannya, hendaklah ia tumpahkan ke atas bajunya seperti ini.”
Kemudian beliau melipat bajunya, bagian yang bersih menutupi bagian yang lain (yang terkena ludahnya, pen).

📚 [ HR Muslim no.3008 dan Abu Dawud no.485 ]
Derajat Hadits: Shohih.

➖ Di dalam hadits Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu, Disebutkan;
“Beliau meludah pada ujung selempangnya (📌) , kemudian menggosok bagian yang satu (yang kotor terkena ludah, pen) dengan bagian yang lain (yang bersih, pen).” [ HR. Ahmad no. 13066 dan Al-Bukhori no.405 ] Derajat Hadits: Shohih.

(📌) Selempang adalah suatu kain yang disandangkan di bahu, bisa di sebelah kanan atau sebelah kiri.

3⃣ Adab Ketiga: Membersihkan ludah atau dahak yang mengenai lantai masjid atau bagian lainnya. Jika lantai masjid dari tanah maka dengan menguburnya.

💯 Hal ini berdasarkan hadits Anas bin Malik rodhiyallahu ‘anhu , bahwasanya Rasulullah shollallahu ‘alaihi wasallam pernah bersabda:

«البُزَاقُ فِي المَسْجِدِ خَطِيئَةٌ وَكَفَّارَتُهَا دَفْنُهَا»

”Meludah di dalam masjid adalah sebuah dosa, penghapusnya adalah; (dengan) menguburnya.” 📚 [ HR. Al-Bukhori no.415, Muslim no. 552-(55), dan Abu Dawud no.474. ] Derajat Hadits: Shohih.

🌼 Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-Asqolani rohimahullah menukilkan penjelasan Ibnu Abi Jamroh; “Mengapa dikubur bukan ditutupi (atau ditimbuni sesuatu)?”, Alasannya:
”Karena dengan sekadar menutupi masih belum menjadikan ludah itu aman bagi orang yang duduk di atasnya; karena masih bisa mengganggu. Lain halnya dengan mengubur. Sehingga dari lafadz itu ipahami; bahwa ludah dikubur di bawah tanah.”

[ Lihat Fathul Bari (1/513) ]

Wallahu a’lamu bisshowab (AH)

〰〰➰〰〰

Banjir di Malam Bulan Ramadhan

Banjir di Malam Bulan Ramadhan

Oleh: Ridha Eka Rahayu

Malam itu, tepatnya tanggal 7-8 Juni 2016. Seharusnya pada tanggal tersebut, aku liburan di rumah. Tetapi semangatku untuk belajar Bahasa Arab sangat menggebu. Awalnya, aku mengikuti kursus Bahasa Arab Online di BISA (Belajar Islam dan Bahasa) selama kurang lebih dua bulan. Dari sanalah aku ingin lebih mendalami Bahasa Arab.

Oke to the point, seperti biasanya aku pulang kuliah lewat jalan DPR (Di bawah Pohon Rindang), di sana ada semacam brosur yang ditempel di tembok samping pintu keluar kampus. Aku mengeluarkan Handphone Samsungku dan memotret brosur tersebut.

Sesampainya di kost, aku menghubungi kontak yang tertera pada brosur. Aku sms Bu Zahro untuk menanyakan seputar les lebih lanjut. Les akan dimulai pada tangga 7 Juni 2016. Karena masih lama, aku menyempatkan pulang ke rumah untuk melepas rindu kepada ke dua orang tua, adik, dan para tetangga.

Selama kurang lebih satu minggu di rumah, aku izin kepada mamahku untuk daftar les Bahasa Arab di Pondok Pesantren Daarun Nashri Cilengkrang I. Oke, setelah diizinkan dan diberi uang Rp. 500.000,- aku meluncur ke Bandung.

Memang sih bulan ini sedang memasuki musim hujan yang cukup es krim, Bukan! Bukan! Maksudku extreem. Maklum lagi pengen makan es krim. Beliin dong, nanti aku kasih sesuatu. 😛

Nah, tadinya aku berniat menginap di Pondok sampai akhir pembelajaran, tapi ada perasaan ngga enak. Entahlah perasaan itu apa. Yang jelas aku ngga mau nginep di Pondok. Akhirnya, aku memilih pulang pergi dari kost ke pondok walaupun harus rela ongkos angkot. Aku hanya menginap hari pertamanya saja, aku berkenalan dengan Bunga dan Ananda, Adiknya Bunga. Bunga adalah mahasiswi Jurusan Sastra Arab di UIN masih semester dua, sedangkan adiknya akan mendaftar di SMP.

Setelah belajar hari pertama, aku tidak bisa menginap lagi makanya aku izin sama Bu Zahro untuk pulang ke kost. Hujan deras mengguyur Kota Bandung dan sekitarnya. Waktu menunjukkan pukul 20:00 WIB, Usai menunaikan shalat Isya, aku ingin tidur karena sudah mengantuk dan melanjutkan belajar esok setelah Tahajjud.

Di pintu kostku, air hujan telah membanjiri. Semakin aku pel lantai, banjir semakin meradang. Pasalnya hujan malam itu sangat deras. Aku menaikkan barang-barang elektronik ke atas meja dan mengamankan barang-barang mudah basah ke tempat yang lebih tinggi. Namun ada barang yang memang harus rusak karena menjadi korban banjir. Ada meja lipat dan beberapa buku.

Sayangnya, saat liburan itu hanya ada aku dan Teh Tatha yang ada di kost karena yang lainnya ada yang sedang KKN dan ada yang sedang liburan ke rumah masing-masing. Karena kamar Teh Tatha jaraknya agak jauh dari kamarku, aku harus berjuang sendiri melawan arus yang terus menerus masuk ke dalam kamar. Kukerahkan seluruh tenaga dengan kain pel untuk membuang air hujan yang membanjiri kompleks kost. Ajaib! Pel yang tadinya berwarna kecoklatan dan agak buluk menjadi putih seperti baru beli kemarin siang.

Aku kelelahan, tetapi air hujan terus membanjiri kamar. Sedangkan hujan deras terus mengguyur. Tetapi jika aku tidak bertindak membersihkan air di kost, aku ngga akan bisa tidur. Maklumlah karena aku tidur dengan kasur lantai, seandainya ada kasur terbang mah aku mendingan bersihin besok. Sungguh! Aku kelelahan.

Ketika hujan mulai reda dan air mulai surut, aku istirahat sejenak setelah berperang dengan air hujan. Aku meraih handphone Nokiaku untuk meng-SMS teman-temanku. “Innalillahi wa Inna Ilayhi Roji’uun, mohon do’anya teman-teman”

Agak lucu sih, pasalnya banyak dari mereka yang mengira aku meninggal dunia malam itu. Jadi pengen ketawa, padahal hanya ingin minta tolong dido’akan agar aku kuat dalam menghadapi musibah kebanjiran ini. Lagipula hanya do’a yang bisa membantu, ngga akan mungkin mereka malam-malam berkunjung ke kost, yang ada di kost saja sudah kesulitan setengah mati apalagi yang harus datang dari luar kost.

Oke, akhirnya hujan reda dan aku berhasil membersihkan banjir kiriman ini. Seandainya ada uang kiriman, hiks… hiks…

Setelah lantai kost kering, aku menggelar kasur dan belajar Bahasa Arab di modul sejenak. Aku membaca bab yang tadi sudah diajarkan. Kemudian kutaruh modul dan buku tulisku di lantai agar aku bisa melanjutkan membaca esok pagi.

Namun, saat aku terbangun aku merasa dingin dan basah. Sungguh, Bray! Aku kira aku ngompol. Eh ternyata banjir itu datang lagi. Aku masih merasa lemas sehabis bangun tidur. Tetapi aku tidak bisa tinggal diam, karena lantai kost sudah banjir lagi dan parahnya modul dan buku Bahasa Arabku basah. Aku sedih sekali rasanya ingin marah dan mengamuk, tapi ke siapa? Aku tidak bisa menyalahkan Alloh.

Setelah itu, aku mengangkat buku-buku dan membiarkannya kering. Aku mulai mengepel air hujan tersebut. Kurang lebih 30 menit, aku selesai menyurutkan air. Kuraih buku-bukuku dan kusetrika. And well, hasilnya jadi keriput. Ah! Aku pasrah…

Adzan shubuh berkumandang, aku bergegas untuk wudhu dan menunaikan shalat, setelah itu aku lanjut merapikan kamar dan belajar sebentar sambil sarapan sekalian menunggu waktu pukul 07:30 WIB untuk berangkat Thalabul ‘ilmi. Aku siap belajar walaupun telah mendapat ujian yang memilukan, namun itu membuatku menjadi senyum-senyum sendiri dan menceritakan ke teman-teman les. 😀

Maha Kuasa Alloh atas segala sesuatu. Pelajaran yang dapat kuambil adalah selalu bersyukur atas segala nikmat dari-Nya, baik nikmat baik maupun nikmat “kurang baik”. Semua ada hikmah dibaliknya. 😀 😀

Tanda Seseorang Takut Kepada Allah

بِسْــــــــــــــمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْـــــم

Tanda seseorang takut kepada Allah nampak pada tujuh perkara, diantaranya:

1⃣ Lisannya
Ia tahan lisannya dari dusta, ghibah (membicarakan aib orang lain), namimah (adu domba), buhtan (dusta), bicara yang berlebihan. Ia jadikan lisannya senantiasa sibuk berdzikir kepada Allah Ta’ala, tilawah Al Qur’an dan diskusi ilmu syar’i.

2⃣ Hatinya
Ia keluarkan dari hatinya rasa permusuhan, kedustaan dan rasa dengki kepada saudaranya. Karena rasa dengki akan menghapus kebaikan. Ketahuilah hasad termasuk penyakit kronis yang menjangkiti hati dan tidak bisa diobati kecuali dengan ilmu dan amal.

3⃣ Penglihatannya
Dia tidak melihat pada perkara haram baik makanan, minuman, pakaian dan selainnya juga kepada dunia dengan pandangan penuh harapan. Akan tetapi hendaknya pandangan sebatas untuk berfikir dan tidak memandang perkara yang tidak halal baginya.

4⃣ Perutnya
Dia tak memasukkan sesuatu yang haram ke dalam perutnya karena memakan yang haram termasuk dosa besar.

5⃣ Tangannya
Ia tak mengulurkan tangannya untuk perkara yang haram sebaliknya ia ulurkan tangan untuk ketaatan kepada Allah Ta’ala.

6⃣ Telapak kakinya
Ia tidak berjalan untuk bermaksiat kepada Allah sebaliknya ia berjalan dalam ketaatan dan keridhaanNya serta untuk berteman dengan ulama dan orang-orang shalih.

7⃣ Ketaatannya
Ia jadikan ketaatannya murni untuk mengharap wajah Allah Ta’ala. Iapun takut tertimpa riya’ dan nifaq.

💧Jika seseorang melakukan poin-poin diatas maka dialah orang yang dimaksudkan dalam firman Allah Ta’ala,

وَالْآخِرَةُ عِنْدَ رَبِّكَ لِلْمُتَّقِينَ

🍃 “Kehidupan akhirat itu di sisi Rabbmu adalah bagi orang-orang yang bertakwa.”

[QS. Az Zukhruf:35]

Cerpen: Sudah Belum, Neng?

Sudah Belum, Neng?

Oleh: Ridha Eka Rahayu

 

Malam itu, aku baru saja pulang kerja. Kebetulan saat itu aku pulang ke rumah orang tuaku karena besok libur kerja sekaligus melepas rindu setelah kurang lebih tiga bulan tidak bertemu. Biasanya aku tinggal di rumah nenekku karena jarak rumahnya dengan tempat kerjaku dekat.

Seperti biasa, sepulang bekerja aku menuju kamar mandi untuk bersih-bersih diri dan berwudhu. Hari itu aku sedang datang tamu bulanan, jadi aku mandi agak lama karena pakaian sudah sangat kotor.

Aku merebahkan badanku di sofa sambil menonton televisi yang sedang ditonton ibuku sembari menunggu teman majelis ta’limnya memanggil. Tak lama kemudian, sekitar ba’da maghrib dari luar rumah terdengar suara para ibu tetangga memanggil ibuku.

“Bu Lastri,” Ujar seorang ibu dari luar.

“Tetangga sudah memanggil, ibu siap-siap pergi ke majelis ta’lim ya?”

“Iya, Bu. Hati-hati.”

Setelah ibuku berangkat, aku bergegas mengambil handuk dan mandi. Kusikat pakaianku kemudian aku mandi, kudengar dari luar seperti ada yang memanggilku. Agak kurang jelas terdengar, kumatikan kran kamar mandi.

“Sudah belum, Neng?”

Kurasa itu suara ibu. “Iya, Bu sebentar.”

Aku mempercepat mandiku dan segera mengelap dengan handuk kemudian memakai pakaian. Aku keluar dari kamar mandi dan tak ada seorang pun di rumah.

“Ibu? Ibu? Ibu dimana?” Aku mencari-cari ibu di setiap ruangan. Aku merasa ada yang aneh. Namun aku tak menghiraukannya. Kutatap jam dinding menunjukkan pukul 19:30 WIB, aku mandi lumayan lama. Kemudian, aku menyalakan televisi untuk menonton acara malam ini.

Sekitar pukul 20:00 WIB, ibuku membuka pintu. “Assalamu’alaikum,”

“Wa’alaikumsalam, Ibu habis dari mana? Katanya mau ke kamar mandi,” Ujarku menyerocos.

“Ke kamar mandi? Ibu baru saja pulang dari majelis ta’lim, Neng.”

Aku bergidik keheranan. Lalu siapakah yang tadi berbicara, “SUDAH BELUM, NENG?”

Pertemuan Singkat

Pertemuan Singkat
Oleh: Ridha Eka Rahayu

Semua berawal ketika aku aktif dalam berbagai grup belajar online via WhatsApp. Saat itu, aku pernah masuk grup bernama “Kelas Belajar Online (KBO). Materinya seru dan menarik, banyak inspirasi yang membuatku termotivasi.
Hari itu tepatnya tanggal 25 November 2016, ada seorang ikhwan mengirim pesan via chat WhatsApp. “Salam kenal ya?”
Aku bertanya, “Dengan siapa?”
“Fahrul. Salam kenal ya?”
Berawal dari sanalah, kemudian kita menjadi semakin dekat. Kita jadi sering berdiskusi seputar perkuliahan. Kebetulan Akh Fahrul juga mahasiswa, ia kuliah di Universitas At-Thahiriyyah Jakarta jurusan Bahasa Arab. Biasanya topik diskusi kita tidak jauh-jauh seputar ayat al-Qur’an, hadits, dan terjemah Bahasa Arab.
Hingga sampailah beberapa hari kemudian, ia mengirim pesan yang membuatku tertegun, hatiku seolah tak percaya dengan apa yang dikatakan olehnya. “Ukhti, bolehkah ana khitbah anti?”
DEG!
Aku belum bisa memberi jawaban secepat itu, pasalnya aku belum pernah bertemu dengannya, belum mengenal asal usul siapa dirinya bahkan latar belakang keluarganya. Ia selalu menagih jawaban. Namun tidak secepat itu mengatakan, “YA” dan tidak mudah mengatakan “TIDAK”. Padahal dua jawaban yang terbilang remeh, tetapi jika dua jawaban itu di hadapkan pada peristiwa yang menyangkut Syari’at Islam, sehidup semati, bahkan dunia akhirat. Tidaklah mudah! Tidak semudah mengatakan “YA” atau “TIDAK” saat diberi permen atau balon oleh orang tua.
Ada satu kata yang membuatku harus mempertimbangkan masak-masak jawabanku, karena hampir lewat satu minggu, aku belum memberi jawaban kepadanya sedangkan ia selalu menagih dan menagih.
“Ukh, bagaimana jawaban anti?”
“….” Aku masih ragu, “Yaa Alloh bimbing aku.
Beberapa saat kemudian ia mengirim pesan kurang lebih seperti ini, “Ukh, jika anti terus mengulur-ulur jawaban. Nanti iblis akan mengisi kekosongan itu. Apakah sholat istikharahmu selama ini belum mendapat jawaban?”
Aku menangis! Ya aku menangis. Pilihan yang sangat berat. Aku memang masih ragu dan keraguan itu datangnya dari iblis. Aku tidak mudah mengatakan “YA” karena aku tidak ingin seceroboh itu, aku ingin menikah dengan ikhwan yang bukan hanya gelar “Shaleh” di mata teman-temannya, atau berpenampilan seperti orang shaleh (Ustadz, Kyai, dan sejenisnya), tetapi yang menyamai atau hampir menyamai visi dan misiku, aku tidak mungkin mencintai orang yang tidak mencintai Alloh. Alloh saja ia tinggalkan, apalagi hanya aku, makhluk yang lemah ini.
Jika aku jawab “TIDAK”, sungguh aku kagum padanya karena setiap ungkapan dan kata-katanya tidak pernah lepas dari dalil al-Qur’an dan Hadits, ia pun mengamalkan sunnah, memang enak dipandang laki-laki berjanggut dan bercelana cingkrang tuh. Apalagi ia sering sekali datang ke pengajian yang mana aku juga senang datang ke kajian yang ia datangi juga. Dalam hatiku, “Sayang kalau ngga menerima yang satu tujuan,”
Apalagi ia sampai memberikan nomor orang yang ia percaya untuk kumintai keterangan, namanya Kak Taqin. Malam itu aku meneleponnya untuk mengetahui sifat dan karakter Akh Fahrul. Ia tidak hanya menjawab, tetapi juga menasihati. Akhirnya aku dapat sedikit mempertimbangkan.
Akh Fahrul memang memiliki masa lalu yang kelam, menurutku memang cukup kelam. Apalagi jika aku harus menerima seorang mahasiswa berusia 28 tahun dan telah menjadi duda tanpa anak. Pilihan yang sangat berat. Namun, hijrahnya untuk meraih hidayah Alloh sungguh luar biasa. Itu yang aku suka darinya walau hati masih ragu antara choice yes or no.
Akhirnya, aku keluar kamar untuk mengambil wudhu dan shalat istikharah. Air mataku masih menetes membasahi pipi. Kupandang cermin dan berkata pada diri, “Aku harus menjawab apa?”
BUK! Kutonjok tembok kamar dengan kepalan tanganku, aku terus meminta tolong kepada Alloh dan meminta perlindungan dari nafsu yang datang dari syetan.
Pukul 23:00 WIB, aku membalas pesan WA Akh Fahrul. “Bismillah, Akh ana tidak memandang siapa antum dan masa lalu kelam antum, ana akan menjawab pertanyaan itu sekarang. Ana menerima khitbah antum.”
Setelah itu, aku tidur.
Keesokan harinya, ia meminta fotoku. Aku tidak memberikannya karena aku memang tidak ingin memberikan fotoku kepada laki-laki sampai memang hubungan atau ikatan sudah sangat jelas. Namun ia terus saja memaksa. Akhirnya saat di kelas, sebelum mata kuliah Metodologi Penelitian, aku mengirim fotoku kepadanya.
Pada Aksi Damai 212 di Monumen Nasional (Monas), tidak ada sinyal, aku menon aktifkan data. Pada saat akan pulang ke Bandung, aku mengaktifkan data hp. Akh Fahrul mengirim pesan WA ingin bertemu denganku. Namun, bus yang kutumpangi akan segera berangkat. Akhirnya aku tidak dapat bertemu dengannya. Ia sangat kecewa waktu itu, dalam hatiku sangat bersalah. Apa yang sudah kulakukan?
Hari berganti hari…
Aku dan Akh Fahrul dalam kondisi biasa saja, tidak ada komunikasi hangat seperti biasanya, kini ia semakin dingin dan kaku. Setiap mengirim pesan selalu membalas singkat dan lama. Aku menjadi jenuh.
Seperti biasa, setiap pagi, aku mendengar kajian Manajemen Qalbu Daarut Tauhiid dan saat itu pengisi tausiyahnya adalah Abdullah Gymnastiar atau tenar dipanggil Aa Gym. Pagi itu, sebelum penutupan tausiyah. Ada pemberitahuan dari Aa, bahwa hari ahad pekan kedua, tepatnya tanggal 8 Januari 2017 akan ada kajian Aa Gym di Masjid Istiqlal Jakarta. Kebetulan tanggal segitu, aku sudah libur semester. Hanya muroja’ah hadits sama belajar online di HSI Ustadz Abdullah Roy saja.
Okeh, liburan semester tiba, hatiku bahagia, lebih bahagia dibanding dikasih nasi sebakul, akhirnya aku sukses bisa pulang ke Bekasi tanggal 6 Januari 2017 dengan perjuangan yang tidak bisa dibayangkan oleh mamalia bertanduk. Eh tunggu, sejak kapan mamalia punya tanduk ya? Apa mungkin setelah bercerai dengan papalia? Masih menjadi misteri.
Sesampainya di Bojong Koneng, aku minta dijemput sama mamah. Aku beristirahat di kamarku tercinta setelah menempuh perjalanan melelahkan. Besoknya aku izin sama mamah mau ke Istiqlal. Awalnya ngga diizinin. Tapi alhamdulillah setelah diyakinkan, akhirnya aku diizinin. Tadinya mau berangkat bareng Adisti tapi dia ngga bisa ikut karena ada acara adiknya habis sunatan. Yasudah aku berangkat sendiri.
Sepanjang perjalanan, aku BBM-an sama Akh Fahrul. Karena tempat ikwan dan akhwat dipisah, akhirnya aku tidak bertemu dengannya. Tetapi kita janjian akan bertemu setelah shalat dzuhur.
Setelah kajian selesai dan telah menunaikan shalat dzuhur, aku menelepon Akh Fahrul. Kita agak kesulitan bertemu karena banyaknya jama’ah yang keluar masuk masjid. Setelah meyakinkan tempat yang memang dekat dengan tempat penitipan sandal, akhirnya kita bertemu.
Aku mengajaknya duduk di selasar masjid, ia agak malu-malu kucing gitu. Pas aku duduk. Dia malah duduknya agak jauhan, mungkin ada sekitar satu meter. Lumayan jauh ya? Tapi ya begitu saat pertemuan kita di selasar masjid Istiqlal.
Kita ngobrolnya kaku banget, saling menunduk, memalingkan wajah, melihat ke arah lain saat ngobrol. Ngga berani mata kita untuk saling memandang. Hanya tersenyum saja ngga bisa apalagi ketawa sampai gampar-gamparan. Waduh horor banget!
Pembicaraan kita ngga jauh-jauh dari pertanyaan standar, seperti nanya kuliah, rumah, datang ke Istiqlal pukul berapa dan sama siapa, ya seperti itulah, tetapi wajah ini begitu sulit untuk saling bertatapan. Hanya senyum kecil tak bersuara yang kami sembunyikan untuk mengkode bahwa pertemuan pertama ini sangat mengharukan.
Setelah sudah cukup dengan pertemuan ini, aku izin pamit untuk pulang. Aku mengucapkan salam kepadanya dan bersalaman dengan menelungkupkan kedua telapak tanganku tanpa menyentuh sedikit pun.
“Assalamu’alaikum,” Ucapku.
“Wa’alaikumsalam,” Balasnya.
Singkat sekali pertemuan pertama kita, namun pertemuan tersebut bukan hanya pertemuan pertama, tetapi sekaligus pertemuan terakhir karena kita tidak akan bertemu lagi. Entahlah. Dalam diri kami sudah tidak ada kecocokan untuk lanjut ke jenjang pernikahan. Itu pun atas permintaannya, walaupun agak konyol. Ya tentu saja konyol. Dahulu, ia yang “kebelet” minta jawaban kepadaku agar kita segera ta’aruf kemudian khitbah pertemuan dua keluarga. Namun, atas alasan apa, Akh Fahrul memutuskan pertunangan ini secara sepihak tanpa kutahu apa salahku. Mungkin jika aku ada salah, ia sebaiknya memberitahuku agar aku dapat mengoreksi atau intropeksi diri, namun ia tidak memiliki alasan atau dasar yang kuat atas pemutusan tunangan ini. Yang ia katakan hanyalah, “Ana tidak memiliki apa-apa untuk Ukh,”
Aku pasrahkan segalanya kepada Alloh, walaupun hatiku sangat sakit diputuskan setelah banyak kepercayaan dan kesetiaan yang kuperjuangkan. Kuyakin ini ujian atas kesalahan yang telah kuperbuat dahulu, aku mesti banyak muhasabah dan selalu berprasangka baik kepada Alloh.  #Keep Smile

Cara Menghemat dan Memperpanjang Umur Baterai Smartphone

Cara Menghemat dan Memperpanjang Umur Baterai Smartphone

Kesel kan baru juga pakai 3 bulan, baterai smartphone udah harus ganti? Guna memperpanjang umur penggunaan baterai smartphone, kita bisa melakukan cara-cara berikut.

1. Hindari Mode Getar

Mode getar memudahkan kita untuk tetap mendapatkan notifikasi tanpa berisik. Tapi hal ini justru membutuhkan daya besar untuk menggetarkan Mode Vibrator yang ada sehingga baterai harus bekerja lebih.

Untuk menghemat baterai smartphone dan menjaga agar baterai tidak cepat rusak, sebaiknya gunakan Mode Silent saat kuliah atau saat pengajian.

2. Jangan Biarkan Smartphone Overheat

Smartphone akan overheat (panas berlebih) jika digunakan terus menerus. Agar tidak overheat, coba gunakan smartphone dengan bijak, seperti menggunakan kamera hanya saat perlu, dan mematikan banyak aplikasi dari background.

3. Hindari Permukaan Panas

Selain membuat kecerahan layar berkurang, panas sinar matahari langsung akan membuat permukaan smartphone jadi overheat. Panas dari luar yang bertemu dengan panas permukaan baterai akan berisiko membuat baterai smartphone jadi cepat kembung dan mudah drain.

4. Jangan Charge Baterai Semalaman

Meski banyak smartphone sudah dibekali fitur auto cut-off saat baterai telah penuh, tapi sangat tidak disarankan untuk mengisi ulang baterai smartphone semalaman. Hal ini akan memicu overheat pada permukaan smartphone, dan membuat baterai smartphone kita cepat rusak.

Agar umur baterai smartphone lebih panjang, sebaiknya lakukan isi ulang baterai smartphone saat baterainya tinggal 30% dan cabut saat terisi sekitar 80%. Ini bertujuan untuk menjaga siklus baterai smartphone.

5. Aktifkan Battery Saver

Sejak Android Lollipop 5.0, smartphone Android sudah dibekali fitur Battery Saver. Dengan mengaktifkan fitur ini, saat baterai smartphone kita dalam keadaan low-batt, maka sistem akan otomatis mengurangi performa CPU-nya.

Jika smartphone kita tetap dalam keadaan full performance saat smartphone kita low-batt, hal itu akan memicu menurunnya kualitas dan umur smartphone kita sendiri.

6. Jauhi Aplikasi yang Banyak Iklan

Selain membuat baterai boros, dalam jangka panjang, aplikasi yang banyak mengandung iklan ini akan memperpendek umur baterai smartphone dan membuat performa smartphone kita menurun.

7. Bijak Menggunakan Lokasi

Fitur lokasi di smartphone yang aktif terus-menerus berpotensi mempercepat baterai habis, sehingga kita jadi sering mengisi ulang. Dampaknya, jangan heran jika dalam waktu pemakaian sebulan, baterai akan cepat sekali drain.

Untuk menghemat baterai dan memperpanjang umurnya, selalu matikan fitur lokasi saat kita sedang tidak menggunakannya. Misalnya, aktifkan saat check-in di Path atau Facebook, lalu matikan setelahnya.

8. Atur Layar Smartphone

Dengan mengatur tingkat kecerahan layar ke yang paling rendah, smartphone kita jadi lebih hemat baterai. Agar semakin hemat baterai, jangan lupa untuk mengatur Time Sleep-nya juga ke waktu yang sekiranya tidak terlalu lama, misal 1 menit.

9. Update Aplikasi Hanya via WiFi

Saat terhubung dengan WiFi, smartphone kita akan terkunci pada jaringan itu saja, sehingga penggunaan CPU dan baterai jadi lebih hemat. Untuk itu, saat update aplikasi dan update OS, sebaiknya kita lakukan hanya saat terhubung dengan WiFi.

Selain bisa membantu menghemat baterai smartphone, cara ini juga efektif untuk membantu kita menghemat kuota.

10. Gunakan Airplane Mode

Jarak smartphone ke BTS operator yang kita gunakan juga mempengaruhi umur baterai. Untuk itu, saat berada di daerah yang tidak terpapar oleh jaringan mobile dari operator yang kita gunakan, sebaiknya atur smartphone kamu ke Airplane Mode. Tujuannya agar daya baterai kita tidak terbuang sia-sia.

11. Matikan Notifikasi

Sesekali, coba matikan notifikasi yang masuk dari beberapa aplikasi tertentu yang kita anggap tidak penting. Ini efektif untuk menghilangkan kecanduan smartphone dan menghemat baterai.

Untuk mencobanya, kita bisa masuk ke menu Setting lalu pilih Apps, kemudian pilih aplikasi ataupun game yang tidak ingin kita tampilkan notifikasinya. Pada bagian Show Notification, hilangkan centangnya.

12. Gunakan Wallpaper Statis

Penggunaan live wallpaper di Android memang membuat smartphone jadi keren, tapi juga membuat baterai smartphone cepat habis. Sebaiknya gunakan wallpaper statis saja. Akan lebih baik jika menggunakan wallpaper warna hitam.

Allahu A’lam

Maraji’ : Jalantikus.com