Diary KKN: Rabu, 09 Agustus 2017

Diary KKN: Rabu, 09 Agustus 2017

Hari ini jadwalku memasak, tugasku adalah membuat sambal untuk campuran masakan. Fitri memotong tempe, sedangkan Arif memotong bawang. Kelompok memasakku adalah Arif dan Fitri. Entah mengapa aku ingin tertawa melihat Arif masak. Yasudahlah tidak perlu dijelaskan apa yang terjadi saat itu.

Setelah masak, aku mandi, mencuci baju, menjemur baju, kemudian pakaian kemarin kuangkat. Jujur masih basah sedikit. Tetapi kalau ngga diangkat aku ngga akan memakai baju karena sudah habis. Sudah tak perlu dibayangkan. Aku memanaskan setrika, kugosok pakaianku yang masih basah sedikit itu. Di saat aku sedang menyeterika menghadap ke arah dinding dapur. Di belakangku di ruang tengah, Fitri, Gina, dan Ulfah sedang membicarakan sesuatu. Sayup-sayup kudengar mereka membicarakan tentang kekasihnya masing-masing. Uchhhh chayang… chayang…

Kemudian Ulfah mandi saat aku masih menyeterika pakaian, karena nanti kami berdua akan sosialisasi awal ke PAUD Al-Barokah 2 di depan sawah Dusun Sampih. Berangkatnya jalan kaki, kami tersesat karena memang belum tahu letaknya dimana. Sudah tiga kali berkeliling, kami belum sampai juga di lokasi.

Akhirnya pulang ke kontrakan dan meminjam motor Fikri, kemudian bertanya kepada para warga letak PAUD. Alhamdulillah kita menemukan PAUDnya. Karena hari ini musim panen, maka sekolah dipercepat kepulangannya. Aku bertemu dengan salah satu guru, raut wajahnya telah menua namun semangatnya masih seperti pemuda. Luar biasa, mesti menjadi teladan.

Kutemui beliau di ruang guru bersama Ulfah untuk sosialisasi awal. Izin untuk membantu mengajar di PAUD mulai besok. Tetapi karena jadwalnya hanya hari senin sampai kamis makan kami hanya mengajar besok dan dilanjut kembali mulai senin pekan depan. Jadwal yang ada di PAUD Al-Barakah 2

Senin   : Mengenal Huruf

Selasa  : Mengenal Angka

Rabu    : Mengenal Iqra’

Kamis  : Olahraga

Sepulang dari PAUD, aku ke kantor desa lagi untuk melanjutkan blog KKN yang belum tuntas. Aku meminjam motor Fikri. Walaupun sempat mogok, Fey membantuku untuk menyalakan mesin. Aku pun izin untuk ke kantor desa sampai ba’da dzuhur.

Selama mengotak-atik blog, aku dan Ahya seperti kehilangan harapan untuk menulis blog. Pasalnya, blog yang diberikan oleh LP2M tidak bisa dibuka. Padahal sudah ada beberapa tulisan kami yang siap diuploas.

Adzan pun berkumandang, aku membuka WhatsApp memakai WiFi kantor desa. Haha jadi kelihatan banget mahasiswa kost. Sarif chat aku, “Ridha dimana?”

“Di kantor desa Rejasari,”

Karena sesuai perjanjian, aku harus mengembalikan motor Fikri ba’da dzuhur. Maka, aku pamit pulang kepada Ahya. Aku lambat-lambatkan perjalanan, menikmati pemandangan Banjar yang indah dan mempesona. Asek!

Sesampainya di kontrakan, aku mengobrol dengan Sarif. Yah, apa saja dibicarakan, kita memang seperti itu. Ngga lama kemudian, Intan, Ayu, dan Hasna berkunjung ke kontrakan. Minta belajar bersamaku dan Ulfah. Aku memberi soal matematika untuk mereka dan soal multiple choice.

Aku ke kamar tengah, mengambil kado untuk ulang tahun Intan. Ia mengajakku keluar kontrakan dan memberiku permen. Unch, senangnya. Setelah belajar dirasa sudah cukup, aku dan adik-adikku duduk di teras untuk sekedar bercerita. Kemudian setelah bercerita, mereka pulang ke rumah masing-masing.

Aku agak mengantuk. Saat mereka pulang, aku langsung menuju kamar tengah. Sarif tidur di sana. Ah yang bener aja aku tidur sama dia. Kamar depan sama belakang kepakai semua. Akhirnya aku usahakan untuk tidak tidur.

Malamnya, aku mengantar Dila beli charger dan kuota menggunakan motor Yana. Sekalian kita jalan-jalan. Musibah pun terjadi. Kakiku terkena standar motor dan, “Aaaaaaah!” perih!

Pulangnya, aku menyalakan laptop untuk mengetik sesuatu. Setelah dimatikan laptop agak error karena loading saat mematikan laptopnya. Aku menangis sedih, bukan bahagia ya? Aku chat bapak dan Ahya. Kata bapak, itu virus, harus diinstal ulang. Sedangkan kata Ahya, itu ngga apa-apa. Bisa begitu karena saat mematikan laptop belum dimatikan koneksi internetnya. Dua jawaban yang membingungkan. Aku terus kepikiran, akhirnya aku tertidur dengan terus kepikiran laptop. Aku khawatir kenapa-napa. Hiks-hiks.

 

Banjar, 09 Agustus 2017 oleh Ridha Eka Rahayu

Iklan

Memprihatinkan! Kondisi Bangunan PAUD Al-Barakah 2 Dusun Sampih

Memprihatinkan! Kondisi Bangunan PAUD Al-Barakah 2 Dusun Sampih

Ridha Eka Rahayu

IMG_20170809_095031Kondisi Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan Madrasah Diniyyah Awaliyyah Al-Barakah 2 yang berada di Dusun Sampih, Desa Rejasari, Kecamatan Langensari, Banjar sangat memprihatinkan. Bagaimana tidak, sejak berdiri tahun 2006 silam hingga saat ini PAUD tersebut tidak pernah tersentuh oleh pihak manapun. Karena tanah yang digunakn untuk membangun adalah tanah guna pakai bukan tanah wakaf dan tidak memiliki sertifikat Izin Mendirikan Bangunan (IMB).

Bu Lala, Pendiri PAUD dan Diniyyah Al-Barakah 2 membenarkan kondisi sekolah yang ia pimpin sudah sangat memprihatinkan.

“Hampir 85 persen kondisinya sudah sangat rapuh. Kita sudah lakukan berbagai upaya mengajukan perbaikan, namun belum ada respon positif,” Kata beliau, Rabu (09/08).

Sekolah tersebut memiliki dua ruang kelas yang diisi sekitar 32 siswa yang terdiri dari 17 siswa PAUD dan 15 siswa Diniyyah. Jadi, untuk jadwal PAUD adalah hari Senin-Kamis pukul 08:00-10:00 WIB, Jum’at-Ahad libur. Sedangkan untuk jadwal Diniyyah adalah Senin-Ahad pukul 14:00-15:00 WIB, Jum’at libur.

“Kalau kondisinya nyaman, baik guru maupun siswa dapat melaksanakan proses belajar mengajar dengan baik,” tutup Bu Lala.

Kondisi kelas yang rusak tampaknya tetap membuat para siswa semangat dalam belajar. Mereka tetap antusias untuk belajar. Mencatat apa yang sudah dicatat oleh guru di depan kelas.

IMG_20170810_090208Pantauan lokasi, lantai ruangan hanya dilapisi ubin yang sudah rusak dan kusam di mana-mana. Sementara pintu dan jendela kelas sudah jebol dan lapuk termakan usia. Cat pada dinding sudah rusak dan mengelupas. Atap plafon jebol di beberapa tempat dengan kaso penyangga yang juga jebol.

Saat kami menunjungi sekolah tersebut, Bu Lala mengatakan bahwa beliau senang didatangi oleh para mahasiswa/i KKN yang bersedia membantu mengajar para siswanya.

Peringatan 17 Agustus di Dusun Sampih

Peringatan 17 Agustus di Dusun Sampih

Ridha Eka Rahayu

BANJAR –Dusun Sampih melaksanakan Pembukaan Perayaan hari 17 Agustus 2017 atau mengenang 72 tahun Indonesia merdeka,  Kamis 16 Agustus 2017. Perayaan 17 Agustus yang memang dilaksanakan untuk mengenang jasa-jasa pahlawan di Negara Kesatuan Republik Indonesia, kali ini masyarakat memang tidak perlu berjuang seperti para pahlawan terdahulu karena kemerdekaan sudah di dapat tepat pada 17 agustus 1945.

Perayaan yang umum di lakukan oleh seluruh masyarakat ini juga di rayakan oleh Masyarakat di Dusun Sampih, Kecamatan Langensari. Perayaan kali ini tidak seperti sebelumnya karena kali ini perayaan 17 Agustus di laksanakan serentak di satu titik. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya karena baru kali ini dilaksanakan dengan waktu yang lama dan dengan konsep yang berbeda. Kegiatan kali ini dilaksanakan di depan halaman MIN 2 Kota Banjar.

Perayaan yang di laksanakan dengan menggabungkan sekitar 10 RT dan 2 Dusun di desa ini membuat kemeriahan sangat terasa. Perayaan ini di laksanakan sekitar 5 hari yakni dari 16 sampai 18 Agustus 2017. Peringatan 17 Agustus ini di isi sekitar 8 macam lomba dengan 2 kategori. Untuk menyambut HUT RI yang ke-72, para pemuda Sampih akan menyelenggarakan kegiatan perlombaan untuk anak-anak dan dewasa yang akan dilaksanakan pada tanggal 16-18 Agustus 2017 yang akan bertempat di depan sekolah MIN 2 Kota Banjar/MIN SAMPIH:

Rabu, 16 Agustus 2017

Kategori lomba untuk anak-anak pukul 13:00 WIB:

  1. Memasukkan paku ke dalam botol
  2. Menendang bola pingpong dengan terong
  3. Tepuk air
  4. Memakan roti
  5. Balap karung menggunakan helm

Kategori untuk pemuda dan orang tua pukul 13:00 WIB:

  1. Tarik tambang antar RT dengan jumlah perkelompok 5 orang
  2. Tenis meja

Kamis, 17 Agustus 2017

  1. Pukul 13:00 WIB sepeda santai dengan pendaftaran Rp. 5000/kupon dengan hadiah:
  2. 1 buah sepeda BMX
  3. Kipas angin
  4. Handphone
  5. Doorprize
  6. Pukul 20:00 tabligh akbar yang akan diisi oleh mubaligh K.H Slamet Santoso dari Baregbeg, Lakbok.

Jum’at, 18 Agustus 2017

  1. Sepak bola memakai daster antar RT dengan jumlah pemain 6 orang/tim, boleh mengirimkan lebih dari 2 tim

Pemetaan Sosial Kelompok 327 di Desa Rejasari

Pemetaan Sosial Kelompok 327 di Desa Rejasari

Ridha Eka Rahayu

Pemetaan sosial merupakan menggali informasi, bagaimana kondisi nyata dari masalah-masalah yang dikemukakan dan dirumuskan pada saat refleksi sosial. Mengkaji informasi dan fakta yang sudah didapat dianalisa dan dikaji bersama.

Dari permasalahan dan potensi yang telah didapat, kelompok 327 merapatkan untuk memfokuskan pembahasan yang akan dikaji di Dusun Sampih. Terdapat banyak sekali masalah-masalah yang dialami di Dusun ini, namun hanya beberapa yang dapat diatasi, karena waktu yang tidak mencukupi. Fokus masalah pun dapat dibantu dan diatasi, dengan saling bekerjasama antara mahasiswa/i KKN dan warga Dusun Sampih.

Salah satu fokus masalah yang dikaji yaitu tentang lemahnya atau pudarnya rasa gotong royong, karena warga Dusun Sampih khususnya kaum laki-laki bekerja di luar daerah dusun, jadi untuk melakukan gotong royong sudah tidak berjalan.

Namun mahasiswa/i KKN yang bertempat di Dusun Sampih dapat menumbuhkan kembali rasa gotong royong, warga dan mahasiswa/i KKN UIN Bandung melakukan bersih-bersih dusun dan memperbaiki akses jalan kecil warga Dusun Sampih.

Selain itu juga, kelompok 327 membuat peta wilayah Desa Rejasari dengan menggunakan kertas berukuran besar. Kami bekerja sama dalam pembuatan peta tersebut. Sebagian mencari sumber data, sebagian melihat lokasi yang ada di Desa Rejasari, dan sebagian lainnya menggambar peta.

Diary KKN: Selasa, 08 Agustus 2017

Diary KKN: Selasa, 08 Agustus 2017

Selepas sholat shubuh, aku ngga langsung mandi. Aku mengepel lantai dulu kemudian mencuci sandalku. Eh pas udah selesai, aku kebentur jemuran bambu di depan rumah Bu Kusniah. Sakit? Enggak sih, cuma pengen ketawa aja.

Selesai cuci sandal, aku baca al-Qur’an di ruang depan. Aku merasa ada yang lewat. Jangan-jangan… oh Bang Fey. Aku pindah ke kamar depan. Terus buku diaryku, kuletakkan di ruang tengah dengan selembar kertas untuk mengerjakan tugas. Tiba-tiba kulihat buku diaryku sudah di tangan Fey dan dibaca-baca olehnya. Aku loncat dari kasur dan berteriak, “TIDAAAAK!”

PLAK! Aku menampar Fey.

Dia ngga marah, hanya meminta maaf dan berkata, “Aku mah ngga baca isinya, cuma lihat tanggal-tanggalnya aja,”

“Terus kenapa kamu ambil kertas selembar aku?”

“Lah kirain ini buat nyatet belanjaan,”

Huft! Relakanlah…

Aku masih sebal sama dia, tapi dia malah mengambil selembar kertas yang akan kupakai mencatat tugas dan tetap tenang serasa tak ada kata salah bagi seorang ketua kelompok.

Oh ya, hari ini aku diminta untuk mengajar di PAUD Miftahul Huda al-Barokah 1. Hari ini Ulfah ke rumah temannya. Otomatis, aku harus mengajar sendiri. Baiklah, aku mandi dulu biar… coba tebak? Yang bisa jawab kuberi hadiah menarik.

  1. Menarik angkot
  2. Menarik becak
  3. Menarik delman
  4. Dan lain-lain….

Aku ke PAUD dengan mengendarai sepeda. Yah beginilah rasanya hidup sederhana dan tidak banyak gaya. Halah jadi apa bae. Okay, aku diminta mengajar PAUD kelas besar. Besar apanya? Hahaha…

Di kelas, dua guru sedang memasang papan tulis dan kantong huruf. Aku membantu mereka. Pelajaran yang diberikan adalah bernyanyi, menyusun kata, menarik garis, dan mewarnai. Saat mewarnai, ada yang mewarnai gambar permen lolipop. Seorang murid berkata, “Sampahnya warna hijau, Bu”

Yang dimaksud sampah permen lolipop adalah bungkus permen. Baiklah kuyakin hal itu tidak lucu bagi kalian. Tapi aku tertawa saat siswa tersebut berkata seperti itu.

Okay, pukul 10 WIB para siswa PAUD duduk dengan rapi karena harus berdoa sebelum pulang. Aku dan Bu Guru menyanyikan beberapa lagu dan berdoa. Setelah itu, syarat pulang adalah bisa menjawab pertanyaan yang Bu Guru ajukan.

Sepulang dari PAUD, Ahya meneleponku. Ia menyuruhku datang ke Kantor Desa untuk menyelesaikan tugas menulis blog KKN. Aku ke sana naik sepeda, sebenarnya mau pulang dulu ganti motor tapi kelamaan. Yasudah aku lanjut saja, walaupun perlu waktu lama dan rokku selalu tersangkut di gigi roda belakang sepeda. Nyiksa, euy!

Sesampainya di Kantor Desa, aku bertemu dua laki-laki namanya Ahya dan Lepimen. Kami pindah ke saung di sekitar Kantor Desa. Aku diminta untuk membuat menu dan sub menu blog. Entah mengapa aku merasa kesulitan, padahal di blogku mudah-mudah saja. Atau jangan-jangan…

Aku tidak menyerah, hanya lelah saja. Hampir satu jam belum ada kemajuan. Aku pinjam hape Ahya untuk foto-foto. Ngga apa-apalah untuk kenang-kenangan. Terus aku bertanya ke Ahya, “Namanya Ahya siapa?”

“Ahmad Khoirul Ahya,”

“Namanya bagus,”

Asli! Tanpa pengawet buatan. Namanya bagus, artinya juga bagus Ahmad Khoirul Ahya (Terpuji Kebaikan Hidup). Tetapi entah mengapa namanya tak sebagus orangnya. Maaf Ya Maaf! Peace, Ya…

Ahya? Kalau kamu baca tulisan ini dan kecewa. Tolong, saat kita bertemu janganlah engkau pukul aku, ya? Kalau meluk boleh? Engga!

Di sela-sela meminjam hape Ahya, aku minta password wifi Kantor Desa kepadanya. Alhamdulillah dikasih. Ah senangnya dan yang lebih menyenangkan sekaligus membahagiakan hatiku adalah Aa chat aku di line dan dia bilang bahwa, “Ridha alhamdulillah saya lulus,”

Kebahagiaan itu sudah mencapai puncaknya. Di samping kiriku ada Ahya sedang melihat blog KKN yang sedang diperbarui oleh Lepimen. Tiba-tiba, “Alhamdulillah, aku seneng banget!”

Tau ngga apa yang kulakukan saat itu, aku langsung memeluk Ahya tanpa memikirkan apa yang terfikirkan olehnya. Astaghfirullah aku segera ingat, dia bukan mahromku. Aku minta maaf ke Ahya, dia maafin aku dan ngga marah ke aku. “Maaf, Ya. Aku seneng banget. Saudara aku lulus sidang,”

“Saudara apa….? Hmmm,”

“Saudara,”

“Saudara ketemu gede?”

“Saudara, Ya.”

Aku khilaf, saking senengnya sampai ngga sadar tempat dan sekitar. Duh Aa, kamu chat aku di saat yang ngga tepat. Masa chat aku pas lagi sibuk-sibuknya ngoprek blog KKN dengan dua lelaki. Aku kan jadi bahagia kamu lulus sidang dan aku curahin kebahagiaan itu di tempat yang salah. Haha Ahya Ahya… jadi pengen ketawa kalau ingat itu.

Selamat ya Aaku…

Aku belum bisa membalas chat aa karena modal wifi. Wajar kalau sinyal hilang-hilangan. Okay, aku masih sibuk dengan blog KKN sampai adzan dzuhur berkumandang. Setengah jam kemudian kami pulang. Aku ngga sholat karena sedang berhalangan. Sebelum pulang, aku foto bareng Ahya. Saat mereka sudah keluar kantor desa, aku setor hadits dulu ke programjodoh.

Baiklah, aku pulang dengan perasaan bahagia. Entah bahagia karena yang mana. Yang pasti aku bahagia sampai setiap bertemu orang, aku senyumin. Bagus dong, tapi ngga hanya karena aku bahagia saja. Tetapi setiap hari, setiap saat, dan setiap keadaan bisa begini terus. Di hadapan orang ya? Bukan senyum sendiri.

Di perjalanan pulang, aku mampir dulu ke mushola dekat Posyandu Tunas Mekar. Aku numpang wudhu. Kemudian melanjutkan perjalanan. Aku melihat Rusmi. Karena jauh, aku kesulitan menyapa. Ah masa harus teriak-teriak.

Sesampainya di kontrakan, ada es buah. Aku mau. SERBUUUUUUU!!!

Aku minum es buah sampai nambah berapa kali, ya? Ngga dihitung. Tapi ada satu moment menyebalkan saat akan menambahkan gula pasir ke es buah. Gula yang masih di plastik terbanting ke lantai dan ….. pecah berserakan. Aku bingung mau dibagaimanakan. Kucari mangkuk, piring, serta tisu untuk memasukan gula ke dalamnya serta membersihkannya. Walaupun masih lengket tetapi minum es buahnya, LANJOOOOOT!

Sarif bangkit, bangkit dari tidurannya ya? Bukan dari kubur. Alah! Serem pisan kalau gitu. Dia ikut minum es buah bareng aku. Yaelah ketahuan laper nih si Sarif. Aku yakin tadi dia udah minum, sekarang kenapa minum lagi. Atau karena ingin menemani aku? Wah… aku tambah bahagia.

Selesai makan es buah, aku buka medsos. Aku ketawa-tawa sendiri liat foto wisuda Aa di IG dan Facebook. Aku langsung cabut charger dan bawa hape ke kamar depan. Di sana ada Dian. Aku tertawa geli di hadapannya. Menceritakan tentang kejadian tadi siang. Ah aku tidak tahu harus menumpahkan kebahagiaan ke siapa lagi, tapi rasa syukur ini sangat pantas dicurahkan ke Alloh, kenapa ya aku bahagia? Kan Alloh yang bahagiain aku.

Aku membalas chat Aa pukul 15:00 WIB. Kemudian, aku mandi. setelah mandi ada kumpulan rapt sensus kelompok 327. Aku sekelompok sama Gina dan Sarif ke RT 02/ RW 07 dan RT 01/ RW 08. Kita dikasih kertas untuk menggambar peta, yah kertas aku kotor kena bungkus es krim coklat yang masih tersisa dan itu sangat menyebalkan. Kenapa coba sekolah tinggi-tinggi kalau buang sampah masih sembarangan dan aku selalu berkata begitu jika ada mahasiswa/i yang masih buang sampah sembarangan. Harusnya mereka sadar dampak negatif dari itu semua.

Karena aku ngga sholat, aku di kamar aja dari maghrib sambil menunggu balasan dari Aa. Ternyata belum dibalas. Aku tidur dan bangun pukul 21 WIB. Jelas dong aku ngga bisa tidur lagi. Di saat yang lain tidur, aku malah ke ruang tengah untuk melihat balasan chat. Karena hanya diread, akhirnya aku menonton video-video di line. Seru deh, sampai pukul 23 aku di ruang tengah. Aku ke kamar mandi, kemudian tidur ke ruang tengah. Rasanya ada yang aneh, aku merasa ada Dian ke kamar mandi, tetapi kenapa pintu kamar depan tidak berbunyi. Di samping itu, ada suara nafas berat. Kukira Fitri. Kemudian nafas itu terdengar ke telinga kiriku dan badanku kaku, berat, dan sulit bergerak.

Paginya aku bertanya ke Dian, apakah semalam ke kamar mandi?

Ia menjawab bahwa, semalam ia menginap di rumah temannya.

Lalu semalam siapa yang ke kamar mandi setelah aku?

Tanya kenapa?

Yaa Allah, Engkau lebih tahu ini semua. Kubersyukur atas hari ini. Walau bagaimana pun ini sudah menjadi ketetapan. Tetap semangat KKN apapun yang terjadi. Karena ini akan menjadi cerita indah di masa tua.

 

Banjar, 08 Agustus 2017 Oleh Ridha Eka Rahayu

Diary KKN: Senin, 07 Agustus 2017

Diary KKN: Senin, 07 Agustus 2017

Seusai shalat shubuh, aku tidur lagi. Entahlah. Sepertinya aku kelelahan karena kemarin aku ngga bisa diam di kontrakan. Aku tidur di belakang pintu. Mata terasa berat sehingga suara berisik pun tak menjadi penghalang untuk tetap tidur, sampai Gina menginjak rambutku saja, aku ngga terasa. Akhirnya saat diinjak lagi, barulah aku mengaduh dan dengan watados alias wajah tanpa dosa, Gina bilang, “Eh maaf, ngga lihat.”

Jangankan untuk menjawab atau marah, bangkit dari tidur pun susah. Akhirnya, aku pun tertidur lagi. Zzz…

Pukul setengah 08, aku terbangun. Mungkin memang sudah saatnya untuk bangun karena hari ini adalah hari pertamaku untuk perkenalan dan sosialisasi awal di PAUD Miftahul Huda Al-Barakah 1 sama Ulfah. Baiklah, aku mandi dan bersih-bersih diri.

Dede minjem laptopku untuk memindahkan file desa Rejasari dari flashdisk ke hapenya. Setelah itu, aku bersiap-siap untuk berangkat. Aku ngga melihat Ulfah, aku nanya ke Dede, “De, Ulfah mana?’

“Udah berangkat,”

Yasudah, aku ke PAUDnya jalan kaki. Ulfah belum di sana. Aku chat di WhatsApp, ternyata dia lagi di kontrakan laki-laki. Huft! Aku pun menunggunya sambil ikutan main balok susun sama anak PAUD yang sedang duduk di dekatku.

Tak lama kemudian, Ulfah datang membawa sepeda. Kami langsung ke pintu PAUD, tapi masih ada rapat. Akhirnya, kami menunggu di luar. Sepertinya Ulfah kelaparan, sehingga dia mengajakku untuk makan di sana. Ya makan seadanyalah, jajanan yang mengingatkanku pada masa lalu. Jadi flashdisk, eh flashback.

Saat rapat selesai dan para wali murid beserta anaknya pulang. Aku dan Ulfah menemui seorang guru PAUD untuk izin ikut mengajar di sekolah ini. Kami diberi air mineral, makanan di bungkusan putih, dan kue-kue. Hadeh ngiler euy! Kuenya menggoda, tapi harus ditahan, biar ngga kelihatan laparnya. Kalau seandainya boleh dibawa pulang mah, aku bawa pulang. Haha.

Pulang dari PAUD, aku naik sepeda ke kontrakan, sedangkan Ulfah jalan kaki. Di kontrakan, aku lihat Sarif di ruang tengah. Aku mengambil laptop di kamar, kemudian menyelesaikan tugas blogku di ruang tengah. Di samping itu, Sarif lagi main gitar. Aku ditanya sama dia, “Kamu suka lagu apa, Dha?”

Aku jawab, “Lagu Didi Kempot yang judulnya Sewu Kuto,”

“Kamu suka lagu Jawa,”

“Iya, tapi suka lagu Indonesia juga sih,”

“Lagu apa?”

“Aku lupa judulnya,”

Setelah itu, Sarif mencari chord gitar lagu Sewu Kuto di hapenya. Lalu dia menyanyikan lagu tersebut. Haha… fales… fales… begitu sih kata orang-orang, kalau suaranya kurang enak didengar.

Aku pinjam hapenya Sarif, ngga bisa kebuka karena dikunci pakai pola. Katanya usap huruf N di pojok bawah kiri. Langsunglah aku meledek dia, “Cie N, siapa tuh N?”

“Nurlela,”

“Siapa tuh?”

“Temen,”

“Ohaha,”

Dan anehnya, kenapa aku mesti cemburu coba? Kenapa aku serasa ingin menangis dan tak kuasa untuk memberontak. Duh gusti, padahal dia bukan siapa-siapa aku. Memang sih kalau masalah perasaan, aku memang menyukainya. Ya hanya suka. Ok! S U K A, bukan cinta.

Sudahlaaaaah, untuk apa aku cemburu padanya. Bukankah aku sedang diperjuangkan oleh dia yang esok akan sidang TA di kampusnya dan sedang berusaha melamar kerja kesana kesini demi menghalalkan aku. Ya aku seharusnya mencintai dia yang tengah berjuang untukku, yang ngga mau memandangku, ngga mau menyentuhku, ngga mau menghubungiku, ngga mau menemuiku, maunya ketemu sama bapakku. Biarlah ketidakmauan itu berubah menjadi kemauan setelah terucap kata SAH dari para saksi, termasuk kedua orang tua kami.

Baiklah, aku harus profesional. Tak mengapa, bukan masalah bagiku. Sarif hanya teman KKNku yang ditakdirkan untuk bersama-sama menuntaskan salah satu mata kuliah di jurusan masing-masing.

Adzan dzuhur berkumandang, kami ke mushola untuk menunaikan sholat. Saat Sarif sudah ke kontrakan, aku masih di mushola. Ketika aku selesai sholat, ada tiga anak warga Sampih yang meminta bantuanku untuk mengerjakan tugas sekolahnya. Oh baiklah, kubantu… bagaimana pun juga, kelak aku akan menjadi ibu untuk anak-anakku dan aku dapat belajar dari hal-hal kecil ini.

Saat kami belajar, seorang ibu masuk ke mushola, ternyata ada pengajian hari senin. Aku membuat PR untuk adik-adikku. Aku pulang ke kontrakan untuk mengambil sesuatu, kemudian aku ke mushola lagi untuk mngikuti pengajian ibu-ibu, aku duduk di samping Mbah Jaenab. Saat pengajian itulah aku mewakili perkenalan KKN di Dusun Sampih ini. Kajian hari ini adalah pembacaan juz 29. Setelah selesai, aku main ke rumah Mbah Jaenab sampai menjelang ashar.

Setelah Ashar itulah, aku main lagi ke rumah Mbah, tapi di teras sambil melihat Pak Aceng memanjat pohon kelapa. Karena kerinduan yang mendalam, aku menelepon nenek seusai memvideo Pak Aceng. Aku menelepon nenek di dekat Mbah, aku bilang sama nenek, hari jum’at pekan ini mau main ke sana.

Setelah itu, aku pulang ke kontrakan untuk mandi dan makan mie. Di kontrakan banyak kelompok lain berkunjung, yaitu kelompok 325 dan 326. Karena adzan, aku bergegas ke mushola. Kemudian banyak warga bertanya, di kontrakan kenapa ramai? Ada kumpulan apa?

Begitulah, dan kujawab seadanya.

Aku pulang lagi ke kontrakan, khawatir ada hal penting yang akan dibicarakan. Aku duduk di ruang tengah sama para laki-laki karena di ruang depan pada berisik, bercandanya sambil teriak-teriak.

Karena sudah adzan, aku ke mushola lagi. Aku ketemu sama ibunya Syifa dan aku jadinya mesen gamis yang waktu itu ditawarin oleh beliau. Sebenernya aku ingin membatalkan. Ah! Tapi ibunya Syifa selalu menanyakan, “Jadi beli ngga?”

Begitu terus. Lha! Aku jadinya ngga enak kan. Tapi sebenernya memang butuh baju, tetapi ya jangan semahal itu. Rp. 150.000 coba?

Nah, aku baru ingat. Sewaktu tadi sholat maghrib, Intan bilang bahwa besok ia ulang tahun. Aku jadi ingin memberi hadiah kepadanya. Apa ya?

Dari sanalah, aku minta tolong diantar mencari kado sekalian sabun. Karena ngga ada motor, akhirnya aku ke Langensari sama Sarif naik sepeda. Bahagianyaaaa…. dan ngga butuh waktu lama di sini, habis foto-foto kita pulang lagi. Karena banyak toko sudah mau tutup, aku beli kadonya di warung deket kontrakan kelompok laki-laki. Lelah tapi aku bahagia, Yaa Alloh…

Malam semakin larut, bajuku masih pada basah. Akhirnya aku menyetrikanya. Agak konyol sih, tapi harus aku lakukan karena sudah dua hari susah panas. Semua sudah tidur, hanya aku yang masih di ruang tengah. Aku teringat besok dia sidang, semoga Alloh memudahkannya.

Aamiin…

Aku menyelesaikan tugasku dan tertidur di ruang tengah. Ah, rindu ini sulit untuk dibendung lagi.

Banjar, 07 Juli 2017 Oleh Ridha Eka Rahayu

Nafsu Tersembunyi

بسم الله الرحمن الرحيم

Nafsu Tersembunyi
Ust. Abu Umar Abdillah

Beberapa pakar sejarah Islam meriwayatkan sebuah kisah menarik. Kisah Ahmad bin Miskin, seorang ulama abad ke-3 Hijriah dari kota Basrah, Irak. Beliau bercerita:

Aku pernah diuji dengan kemiskinan pada tahun 219 Hijriyah. Saat itu, aku sama sekali tidak memiliki apapun, sementara aku harus menafkahi seorang istri dan seorang anak. Lilitan hebat rasa lapar terbiasa mengiringi hari-hari kami.

Maka aku bertekad untuk menjual rumah dan pindah ke tempat lain. Akupun berjalan mencari orang yang bersedia membeli rumahku.

Bertemulah aku dengan sahabatku Abu Nashr dan kuceritakan kondisiku. Lantas, dia malah memberiku 2 lembar roti isi manisan dan berkata:
“Berikan makanan ini kepada keluargamu.”

Di tengah perjalanan pulang, aku berpapasan dengan seorang wanita fakir bersama anaknya. Tatapannya jatuh di kedua lembar rotiku. Dengan memelas dia memohon:

“Tuanku, anak yatim ini belum makan, tak kuasa terlalu lama menahan rasa lapar yang melilit. Tolong beri dia sesuatu yang bisa dia makan. Semoga Allah merahmati Tuan.”

Sementara itu, si anak menatapku polos dengan tatapan yang takkan kulupakan sepanjang hayat. Tatapan matanya menghanyutkan fikiranku dalam khayalan ukhrowi, seolah-olah surga turun ke bumi, menawarkan dirinya kepada siapapun yang ingin meminangnya, dengan mahar mengenyangkan anak yatim miskin dan ibunya ini.

Tanpa ragu sedetikpun, kuserahkan semua yang ada di tanganku.
“Ambillah, beri dia makan”, kataku pada si ibu.

Demi Allah, padahal waktu itu tak sepeserpun dinar atau dirham kumiliki. Sementara di rumah, keluargaku sangat membutuhkan makanan itu.

Spontan, si ibu tak kuasa membendung air mata dan si kecilpun tersenyum indah bak purnama.

Kutinggalkan mereka berdua dan kulanjutkan langkah gontaiku, sementara beban hidup terus bergelayutan dipikiranku.

Sejenak, kusandarkan tubuh ini di sebuah dinding, sambil terus memikirkan rencanaku menjual rumah. Dalam posisi seperti itu, tiba-tiba Abu Nashr dengan kegirangan mendatangiku.

“Hei, Abu Muhammad…! Kenapa kau duduk duduk di sini sementara limpahan harta sedang memenuhi rumahmu?”, tanyanya.

“Subhanallah….!”, jawabku kaget. “Dari mana datangnya?”

“Tadi ada pria datang dari Khurasan. Dia bertanya-tanya tentang ayahmu atau siapapun yang punya hubungan kerabat dengannya. Dia membawa berduyun-duyun angkutan barang penuh berisi harta,” ujarnya.

“Terus?”, tanyaku keheranan.

“Dia itu dahulu saudagar kaya di Bashroh ini. Kawan ayahmu. Dulu ayahmu pernah menitipkan kepadanya harta yang telah ia kumpulkan selama 30 tahun. Lantas dia rugi besar dan bangkrut. Semua hartanya musnah, termasuk harta ayahmu.”

Lalu dia lari meninggalkan kota ini menuju Khurasan. Di sana, kondisi ekonominya berangsur-angsur membaik. Bisnisnya melejit sukses. Kesulitan hidupnya perlahan lahan pergi, berganti dengan limpahan kekayaan. Lantas dia kembali ke kota ini, ingin meminta maaf dan memohon keikhlasan ayahmu atau keluarganya atas kesalahannya yang lalu.

“Maka sekarang, dia datang membawa seluruh harta hasil keuntungan niaganya yang telah dia kumpulkan selama 30 tahun berbisnis. Dia ingin berikan semuanya kepadamu, berharap ayahmu dan keluarganya berkenan memaafkannya.”

Dengan perubahan drastis nasib hidupnya ini, Ahmad bin Miskin melanjutkan ceritanya:

“Kalimat puji dan syukur kepada Allah berdesakan meluncur dari lisanku. Sebagai bentuk syukur. Segera kucari wanita faqir dan anaknya tadi. Aku menyantuni dan menanggung biaya hidup mereka seumur hidup.”

Aku pun terjun di dunia bisnis seraya menyibukkan diri dengan kegiatan sosial, sedekah, santunan dan berbagai bentuk amal salih. Adapun hartaku, terus bertambah melimpah ruah tanpa berkurang.

Tanpa sadar, aku merasa takjub dengan amal salihku. Aku merasa, telah mengukir lembaran catatan malaikat dengan hiasan amal kebaikan. Ada semacam harapan pasti dalam diri, bahwa namaku mungkin telah tertulis di sisi Allah dalam daftar orang orang shalih.

Suatu malam, aku tidur dan bermimpi. Aku lihat, diriku tengah berhadapan dengan hari kiamat. Aku juga lihat, manusia bagaikan ombak, bertumpuk dan berbenturan satu sama lain.

Aku juga lihat, badan mereka membesar. Dosa-dosa pada hari itu berwujud dan berupa, dan setiap orang memanggul dosa-dosa itu masing-masing di punggungnya.

Bahkan aku melihat, ada seorang pendosa yang memanggul di punggungnya beban besar seukuran kota Basrah, isinya hanyalah dosa-dosa dan hal-hal yang menghinakan.

Kemudian, timbangan amal pun ditegakkan, dan tiba giliranku untuk perhitungan amal.

Seluruh amal burukku ditaruh di salah satu sisi timbangan, sedangkan amal baikku di sisi timbangan yang lain. Ternyata, amal burukku jauh lebih berat daripada amal baikku!

Tapi ternyata, perhitungan belum selesai. Mereka mulai menaruh satu persatu berbagai jenis amal baik yang pernah kulakukan.

Namun alangkah ruginya aku. Ternyata dibalik semua amal itu terdapat NAFSU TERSEMBUNYI. Nafsu tersembunyi itu adalah riya, ingin dipuji, merasa bangga dengan amal shalih. Semua itu membuat amalku tak berharga. Lebih buruk lagi, ternyata tidak ada satupun amalku yang lepas dari nafsu-nafsu itu.

Aku putus asa.

Aku yakin aku akan binasa.
Aku tidak punya alasan lagi untuk selamat dari siksa neraka.

Tiba-tiba, aku mendengar suara, “Masihkah orang ini punya amal baik?”

“Masih…”, jawab suara lain. “Masih tersisa ini.”

Aku pun penasaran, amal baik apa gerangan yang masih tersisa? Aku berusaha melihatnya.

Ternyata, itu HANYALAH dua lembar roti isi manisan yang pernah kusedekahkan kepada wanita fakir dan anaknya.

Habis sudah harapanku.
Sekarang aku benar benar yakin akan binasa sejadi-jadinya.

Bagaimana mungkin dua lembar roti ini menyelamatkanku, sedangkan dulu aku pernah bersedekah 100 dinar sekali sedekah (100 dinar = +/- 425 gram emas = Rp 250 juta), dan itu tidak berguna sedikit pun. Aku merasa benar-benar tertipu habis-habisan.

Segera 2 lembar roti itu ditaruh di timbanganku. Tak kusangka, ternyata timbangan kebaikanku bergerak turun sedikit demi sedikit, dan terus bergerak turun sampai-sampai lebih berat sedikit dibandingkan timbangan kejelekanku.

Tak sampai disitu, tenyata masih ada lagi amal baikku. Yaitu berupa air mata wanita faqir itu yang mengalir saat aku berikan sedekah. Air mata tak terbendung yang mengalir kala terenyuh akan kebaikanku. Aku, yang kala itu lebih mementingkan dia dan anaknya dibanding keluargaku.

Sungguh tak terbayang, saat air mata itu ditaruh, ternyata timbangan baikku semakin turun dan terus memberat. Hingga akhirnya aku mendengar suatu suara berkata, “Orang ini selamat dari siksa neraka!”

🔺🔻🔺🔻

Saudara-saudariku tercinta…
Masih adakah terselip dalam hati kita nafsu ingin dilihat hebat oleh orang lain pada ibadah dan amal-amal kita..?

مَنْ كَانَ يُرِيْدُ الْعَاجِلَةَ عَجَّلْنَا لَهٗ فِيْهَا مَا نَشَآءُ لِمَنْ نُّرِيْدُ ثُمَّ جَعَلْنَا لَهٗ جَهَنَّمَ ۚ يَصْلٰٮهَا مَذْمُوْمًا مَّدْحُوْرًا [۱۸] وَمَنْ اَرَادَ الْاٰخِرَةَ وَسَعٰى لَهَا سَعْيَهَا وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤئِكَ كَانَ سَعْيُهُمْ مَّشْكُوْرًا [۱۹]

“Barang siapa menghendaki kehidupan sekarang (duniawi), maka Kami segerakan baginya di (dunia) ini apa yang Kami kehendaki bagi orang yang Kami kehendaki. Kemudian Kami sediakan baginya (di akhirat) Neraka Jahanam; dia akan memasukinya dalam keadaan tercela dan terusir. Dan barang siapa menghendaki kehidupan akhirat dan berusaha ke arah itu dengan sungguh-sungguh, sedangkan dia beriman, maka mereka itulah orang yang usahanya dibalas dengan baik.”(QS. Al Isra: 18-19)

بارك الله فيكم

Semoga Bermanfaat

Repost by:
Hartanto (Lazis Baitulmal Fkam)