Indahnya Pertemuan dengan Para Penghafal al-Qur’an

Indahnya Pertemuan dengan Para Penghafal al-Qur’an

True Story By Ridha Eka Rahayu

Masih dalam liburan semester, waktu itu adalah bulan agustus. Rencananya tanggal 2 agustus, aku mau berangkat ke Bandung lagi, mau ikut les al-Qur’an di Pondok Pesantren al-Jannah dan di Graha LTI Pahlawan.

Karena masih ada waktu luang di tanggal 3-4 agustus, aku mengisi waktu luang bertemu dengan Teh Wina, mahasiswi STKS Bandung untuk makan bersama di Steak Ranjang Dago. Haduh! Emang sih awalnya berat banget, ini masalah keuangan. Soalnya uangnya mau aku pakai untuk bayar les di LTI, kalau di Ponpes mah alhamdulillah gratis. Tapi ngga apa-apalah, niatnkan untuk menyambung tali ukhuwah karena Allah.

Oke, waktu yang ditunggu tiba, tanggal 5 agustus adalah hari pertama les di ponpes, sedangkan tanggal 7 agustus les di LTI. Tapi sayang, aku ngga ikut les di ponpes sampai selesai. Aku ngebet banget pengen ke Garut, ketemu Ukhty Irma, saudariku kenalan di SSG angkatan 30.

Akhirnya aku putuskan, putuskan apa?

  1. Tali
  2. Rantai
  3. Cinta

Aduh ngga kuat kalau membicarakan bagian c (“Saya menyerah! Saya menyerah!” sambil melambaikan tangan di depan gorila. Lagi di kebun binatang ceritanya. Hehe)

Back to topic. Aku memutuskan untuk izin les ke Ustadzah Zahro, kemudian aku ke Garut rencananya tanggal 12 agustus. To the point aja ya?

Tanggal 12 agustus, aku berangkat ke Garut pukul 10:00 WIB, atas permintaan ukh Irma, soalnya dia liqo sampai jam 12:00 WIB, biar aku sampai di Garut, dia bisa jemput aku di terminalnya.

Perjalanan Bandung ke Garut memakan waktu tiga jam (makan waktu ngga ada rasanya, sob! -,-) alhasil, sesampainya aku di terminal Garut, Ukhty Irma belum sampai. Ya harus menunggu sekitar sejam dua jam. Asal jangan bertahun-tahun. Aku ngga mau masuk on the spot berjudul 7 fenomena menunggu terlama di dunia. Huhu.

Ah! Akhirnya datang juga yang dinantikan. Aku tersenyum ke ukh Irma, rasanya kalau ngga senyum, aku ngga bisa bertahan hidup. Ya ngga apa-apa dong, senyuman di hadapan saudaramu adalah sedekah. Asal jangan senyum-senyum sendirian.

Aku dan Ukh Irma berjalan ke seberang jalan untuk menanti elf jurusan Cikajang. Agak jauh juga sih, tapi kalau naik angkot bisa dua kali naik. Wez tahu kan? Ya iyalah kan dikasih tahu sama Ukh Irma. Eh engga deng, Ukh Irma ngga bawa tahu.😛

Nah, setelah ketemu elf jurusan Cikajang, kita berdua mencegatnya. Mencegatnya sih pakai jari telunjuk di lambaikan ke atas ke bawah, bukan lari ke tengah jalan sambil merentangkan kedua tangan bak iron man menghadang kereta. Haha itu konyol banget. “Aku ngga mau, aku ngga mau.” Nada lebay.

Memang sih perjalanan dari terminal Garut ke Cisurupan lumayan jauh. Ya seperti jarak Terminal Cikarang Barat ke Stasiun Bekasi mungkin.

Sesampainya di Cisurupan daerah rumah Ukh Irma, kita turun dan membayar ongkos. Sesuatu telah terjadi padaku pas turun dari elf,  karena menghindari sentuhan bapak-bapak penumpang di daerah rawan. Aku rela melompat kecil dengan satu kaki di atas elf dan satunya lagi menyentuh aspal. “Adeuh! Sakitnya bukan main.” Masalahnya jarak pijakan elf ke aspal tuh lumayan tinggi, jadi deh kecengklak nih selang*angan. Oooooouuuuhhhh!

Aku berjongkok sebentar sambil menahan sakit, kesakitan tapi tertawa. Itulah Ridha. Pas Ukh Irma bilang, “Kalau sakit mah kayaknya besok ngga usah naik ke Papandayan.” Aku langsung bangkit dari jongkok dan merasa sok kuat, udah sembuh total. Padahal mah?

Kita berdua berjalan menuju rumah orang tua Ukh Irma sambil ngobrol-ngobrol seputar Islam dan sedikit pernikahan. Bukan aku yang memulai. Aku nyesek kalau ditanya kapan nikah. Kenapa? Allah belum membukakan hijab jodohku di sana. Jadi deh harus kuat-kuat menjaga hati, apalagi kalau temen-temen ngomongin tentang cinta atau ta’arufannya. Huft!

Tidak seperti biasanya, pagi ini hujan mengguyur kota Garut. Entah hanya Garut saja atau belahan bumi lainnya. Yang pasti ini tidak sesuai dengan rencana. Kukira awalnya saja hujan dan nanti akan reda. Ternyata hujannya awet. Aku menunggu moment-moment penting naik ke atas gunung Papandayan menikmati dan mensyukuri Mahakarya Sang Pencipta.

Tetapi mau bagaimana lagi? Hujannya sih gerimis-gerimis tapi awetnya itu loh, bukan main, ngga berhenti-berhenti dari pagi sampai sore, pas mau beli seblak aja gerimis. Pulang beli seblak gerimis lagi. Ngga ngeluh sih, hanya saja waktuku di Garut terbatas. Besok aku harus pulang ke Bandung lagi. Ada les di LTI.

Sembari menunggu gerimis berhenti, aku diajak Ukh Irma nonton video “Alif Lam Mim” di laptopnya. Memang sih membuatku lupa pada suasana sekitar karena filmnya itu penuh teka-teki, jadi penasaran. Seakan-akan ada dan ikut bersama film tersebut.

Pas videonya sudah selesai, jam dinding menunjukkan pukul 10:00 WIB, ku galau banget deh. Ngga jadi ke gunung sesuai rencana. Hanya mengikhlaskan apa yang telah terjadi saja. Akhirnya kita ke Pondok Tahfidz Al-Yumna untuk mengikuti acara kajian di suatu tempat. Ustadz belum ngasih tau, rahasia katanya.

Sepanjang perjalanan kita pakai cadar, emang ngumpet-ngumpet sih makenya, soalnya ngga diizinin pakai cadar sama orang tuanya Ukh Irma. Tapi pas nunggu elf kita pakai cadarnya. Ah so sweet.

Di elf, aku merasa ada yang aneh. Kepalaku pusing, sakit perut, ngga enak badan, harapanku hanya satu, Jangan pingsan di elf. Ngerepotin penumpang.

Sesampainya di Al-Yumna, aku langsung ke kamar mandi, wudhu untuk shalat ashar di mihrab akhwat. Tadinya aku mau ikut Ukh Irma Ngajar tahfidz anak-anak, tapi kepalaku pusing euy. Pengennya tiduran terus, tapi ngga bisa tidur. entahlah, mungkin ini saatnya aku harus sakit di tempat asing.

Menjelang maghrib, Ukh Irma bangunin aku, sebenarnya aku ngga tidur, Cuma tutup mata aja. Tapi ya gitu, pas bangun pusing banget. Karena ini shalat wajib, aku harus wajib menunaikannya. Rencananya seusai shalat maghrib, Ustadz mengajak para ikhwan dan akhwat Al-Yumna untuk menghadiri kajian.

Setelah maghrib selesai, para ikhwan dan akhwat al-Yumna didampingi Ustadz dan Istrinya membawa kita ke tempat kajian yang masih surprise. Yang jelas ikhwan dan akhwat dipisah kendaraannya dong. Kalau dibarengin, susah bagi mereka menjaga mata. Hujan yang sejak pagi mengguyur kota Garut, walau pun ngga deras. Tapi ngga berhenti-berhenti hujannya. Dinginnya itu lho, nusuk kulit.

Sesampainya di tempat tujuan misterius, kita diajak ke sebuah gang. Hujan deras masih mengguyur Garut. Pas mau ke belokan, Ustadz lari sambil ngagetin para akhwat. Aku teriak! Ah dasar ustadz, lagi panik juga masih sempet-sempetnya ngelawak.

Ustadz mengarahkan kita ke sebuah masjid di desa terpencil, ngga terpencil banget sih. tapi sungguh deh ini sepi amat kayak di perkampungan gitu. Samping masjid ada kuburan. Haha udahlah jangan ngeluh. Gini-gini juga seneng bisa dateng ke masjid ini, materi kajiannya tentang metode menghafal Qur’an. Namanya metode HAMASAH. Aku ngga tau nama pematerinya, soalnya dateng telat. Tapi beneran deh ustadznya ganteng. Eh😛

Setelah kajian selesai, kita lanjutkan shalat Isya berjama’ah, ya Ampun perut sakit banget. Harus wudhu dan airnya dingin banget, bisa-bisa kedinginan nih. Ya iyalah, masa kepanasan.

Seusai shalat, kita kembali ke Pondok Al-Yumna. Aku langsung ke Mihrab Akhwat untuk Istirahat dan tidur, Ukh Irma bilang mau ngerokin aku. Yaudahlah ngga apa-apa. Biar ada sulapnya. Hehe. Punggung aku banyak tato merahnya.

Waktu semakin larut, kami lelap dalam mimpimasing-masing. Rasa-rasanya malam begitu sebentar. Pada sepertiga malam, kita semua diajak tahajjud. Aku plin plan, pengen tahajjud tapi badan lemes, pusing juga. Peace! Ini bukan mengeluh ya?

Aku kuatkan diri untuk tahajjud, pagi itu gerimis masih memercik ke bumi, menambah kesan dingin yang tak terkira. Aku memiliki penyesalan mendalam, aku menyesal dengan masalalu kelamku pada masa-masa SMK. Ingin rasanya aku menebus semua dosa-dosaku dengan kebaikan-kebaikan yang banyak. Tetapi apa dayaku? Aku punya keterbatasan, aku yakin Allah pemaaf. Aku harus bertekad kuat untuk tidak mengulangi kesalahan masa laluku.

Seusai shubuh berjamaah, kita semua berkumpul di kelas untuk membaca al-Matsurat bersama dan muraja’ah al-Qur’an surat al-Waqi’ah dan al-Qalam. Tahu ngga sih? aku bahagiaaaa banget bisa ketemu sama temen-temen penghafal al-Qur’an dan Ustadz yang ramah dan lucu. Hehe. Ngga sia-sia deh ke Garut, silaturahmi sambil ngafal Qur’an. Semoga ini babak baru untuk lebih semangat lagi dalam menghafal, Ya Allah.

Waktu semakin berjalan beranjak siang, aku harus bergegas ke Bandung untuk mengikuti Les tahsin di LTI.

Aku pamit sama temen-temen di Mihrab akhwat. Terharu banget. Huhu. Tapi aku ngga langsung pulang, aku nengok Ukh Ayya dulu. Kasihan kakaknya sakit. Semoga cepet sembuh. Tapi kabar-kabarnya beliau sudah meninggal. Semoga Allah berikan tempat terbaik di sisi-Nya. Diterima Amal dan ibadahnya. Aamiin.

Oke, setelah itu aku langsung naik elf jurusan Bandung, naiknya 2x soalnya elf yang dari Garut berhenti di Leuwi panjang.

See you, tunggu ceritaku selanjutnya yaaaaaaaaaaaa?

Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

يُقَالُ لِصَاحِبِ الْقُرْآنِ اقْرَأْ وَارْتَقِ وَرَتِّلْ كَمَا كُنْتَ تُرَتِّلُ فِى الدُّنْيَا فَإِنَّ مَنْزِلَكَ عِنْدَ آخِرِ آيَةٍ تَقْرَؤُهَا

 

Dikatakan kepada orang yang membaca (menghafalkan) al-Qur’an nanti, ‘Bacalah dan naiklah serta tartillah sebagaimana engkau di dunia mentartilnya! Karena kedudukanmu adalah pada akhir ayat yang engkau baca (hafal).

Hadits ini diriwayatkan oleh imam Abu Daud dalam Sunannya no. 1464 dan imam Tirmidzi dalam sunan at-Tirmidzi, no. 2914, dan Ibnu Hibbân no. 1790 dari jalan ‘Âshim bin Abi  Najûd dari Zurrin dari Abdullah bin ‘Amru secara marfu’.

Imam at-Tirmidzi menyatakan, “Hadits hasan shahih.” dan adz-Dzahabai berkata, “Shahih.

Syaikh al-Albani rahimahullah menghukuminya dengan hadits yang hasan karena para ulama berbeda pendapat tentang tentang ‘Âshim bin Abi an-Najûd.

Syaikh al-Albani rahimahullah sendiri dalam Silsilah Ahâdîts ash-Shahîhah menyampaikan jalan periwayatan lainnya selain dari ‘Âshim bin Abi an-Najûd ini dan dari hadits Abu Sa’id al-Khudri Radhiyallahu anhu sehingga beliau rahimahullah menyimpulkan bahwa haditsnya adalah shahîh. Lihat Silsilah Ahâdîts ash-Shahîhah 5/281 dan 6/793.

My Story: 24 Jam di Garut

24 Jam di Garut

Oleh: Ridha Eka Rahayu

Pada pagi hari, tanggal 19 Juni 2016. Aku berjanji akan mengunjungi rumah Ukhty Irma di Garut. Ukh Irma adalah sahabat seangkatanku di SSG (Santri Siap Guna) Daarut Tauhiid angkatan 30. Oke, langsung ke TKP. Pukul 8:30 WIB, aku berjalan menuju bundaran Cibiru untuk menaiki Bus jurusan Garut.

Sebenarnya, kemarin sore (18/06) aku sudah mau berangkat ke Garut tapi lost contact karena Ukh Irma BBM ceklist dan Nomer HP teu aktif. Nah, aku mikirnya aneh-aneh tuh, takut sampainya kemaleman dan di terminal Garut ngga ketemu Ukh Irma, nanti aku digodain sopir bus, kenek bus, pedagang asongan, preman terminal, ibu-ibu jualan jamu. Lah ngapain malem-malem ada ibu-ibu jualan jamu? Mending kalau pakai baju merah atau biru. Kalau pakai baju putih, rambut panjang, sudah dipastikan itu adalah model iklan susu. Bajunya jadi putih karena ketumpahan susu.

Kembali ke topik, “Beli oleh-oleh ngga ya?” Ah awang banget. Masalahnya udah kesiangan nih. Akhirnya tanpa membawa oleh-oleh, aku main ke rumah Ukh Irma. Padahal mah lagi kanker alias kantong kere. Ssssst!

Aku menaiki Bus warna kuning jurusan Garut. Di seberangku agak depan, ada ibu-ibu meludah di Bus. Jorok banget deh. Makanya kalau kemana-mana sedia kantong plastik, Bu. Keinjek orang kan jadi penyakit. Wedeh! Menyuarakan kebenaran. Boleh kan? Istihsan. Tidak ada larangan sebelum ada dalil yang melarangnya.

Sebelum ditagih ongkos Bus, aku kebingungan nanya-nanya harga ongkos ke Ukh Irma lewat BBM. Sebelum dibalas oleh ukh Irma, kondektur udah nagih ongkos duluan.

“Berapa?” Tanyaku

“Dua lima.”

Aku langsung merogoh tasku mengambil dompet dan menyerahkan uang yang diminta.

Perjalanan ditempuh selama kurang lebih dua jam. Sejuknya pemandangan di Garut. Saya suka, saya suka.

Sesampainya di terminal, aku menelepon ukh Irma. “Nomor yang anda tuju sedang tidak aktif. Cobalah beberapa saat lagi.”

Euh, kenapa jadi dia yang ngomong!

Aku coba telepon berkali-kali dan tetap sama jawabannya. Ada rasa lecek dalam hati. Sebel banget deh. Kalau sampai pukul 11:00 WIB, ukh Irma belum jemput ke Terminal, aku ke Bandung lagi. Di tengah leceknya hati, ada pedagang asongan yang nawarin makanan ke aku, aku bentak karena rasa kesal dalam keadaan yang menyebalkan.

Setelah nomor ukh Irma aktif, aku menyesal telah membentak bapak pedagang asongan. “Ya Allah maafkan aku.” Sedih, nyesek, karena keadaan yang tidak mendukung malah orang lain terkena imbasnya. Huhu.

Oke, setelah aku bertemu ukh Irma dengan keadaan yang datar, kita saling menghampiri dengan melempar senyum termanis. Keren kan kita bisa melempar senyum? Kita saling bersalaman ditambah cipika cipiki. Eum mantep dah banyak yang iri.

Kemudian aku diajak ukh Irma ke belakang terminal untuk menumpang angkot arah pesantren al-Yumna. Pokoknya mah aku kalau udah ketemu ukh Irma, apa aja diomongin. Eits! Tapi omongannya yang bermanfaat lho. No ghibah. Asli! dijamin halal. Mamah tahu sendiri.

Sesampainya di pesantren, yang pertama aku kunjungi malah kamar mandi. Aku mau wudhu. Ribet sih, tapi harus. Oke, setelah wudhu, aku menuju asrama akhwat. Di depan pintu ada akhwat sedang menyapu. Aku sih belum kenal, jadinya malu-malu gitu.

“Masuk aja, ukh.” Panggil Ukh Irma dari dalam kamar (asrama) akhwat

Aku mengucapkan permisi sambil tersenyum kepada akhwat cantik yang sedang menyapu lantai kamar.

Setelah itu, aku dan ukh Irma mengobrol “diskusi” seputar Perkuliahan. Islam, Mahdzab, dan lain-lain. Susah berhenti karena perbedaan pendapat yang “tajam”, apalagi setelah akhwat yang menyapu lantai bergabung dengan obrolan kami. Aku bertanya nama akhwat tersebut. Namanya Lathifah.

Sebenarnya diskusi kami bertiga santai walaupun membicarakan perbedaan pendapat seputar Islam. Tak lama kemudian datanglah akhwat lainnya. Aku berkenalan dengannya. Namanya Laila. Sambung menyambunglah obrolan kami. Aku merasa bayak hal yang belum diketahui. Terlebih lagi, Ukh Irma dan Ukh Laila yang berpegang pada organisasi masyarakat berbeda pemahaman antara satu dalil. Tetapi bukan berarti pendapat ini berbeda 100%. Misal, kita membahas tentang shalat jum’at. Mereka beranggapan bahwa wanita boleh shalat jum’at sedangkan aku berpendapat boleh dikerjakan boleh tidak. Nah, yang kita pegang ada dari dua dalil, pertama al-Qur’an dan as-Sunnah.

Jadi kita berbeda pendapat namun bukan saling menyalahkan, bahkan tidak sampai mengkafirkan. Naudzubillah. Oke, menurutku bukan saatnya lagi mempermasalahkan perbedaan. Kita lihat contoh kecil, di ruang kelas SD, ada satu guru dan dua puluh siswa misalnya. Guru memberikan satu materi tentang buah apel, “Apa yang kalian ketahui tentang buah apel ini?

Pasti para siswa akan menjawab berbeda, ada yang menjawab berwarna merah, ada yang menjawab rasanya manis, dan ada juga yang menjawab mengandung vitamin. Nah semua itu benar! Tidak ada yang salah. Yang salah itu kalau mereka menjawab bukan buah apel tapi pisang atau kucing sedang berdiri (Halah ngaco!). Jelas saja jawaban tersebut merupakan perbedaan yang menyimpang sekali. Paham kan?

Oke, lanjut ke topik awal. Setelah puas mengobrol, kami shalat Ashar lalu menuju masjid untuk ODOJ, buka bersama, kemudian shalat maghrib berjama’ah.

Setelah selesai acara, aku dan Ukh Irma izin kepada Ustadzah untuk pulang. Pulang ke rumah Ukh Irma ya? Bukan ke rumah mamahnya Plo. Hah Plo? Siapa tuh?

Haha oke, perjalanan harus ditempuh dengan elf menuju arah Cikajang. Sebelnya lagikalau di elf dinaiki penumpang yang merokok. Rasanya pengen ngajak tawuran tau ngga?

“Jangan kotori hati dengan sebal kepada orang lain, Ukh.” Ujar Ukh Irma menasihati.

“Tapi itu kan dzalim, ngerokok ngga inget ada orang lain terganggu.” Gerutuku.

Kalau ukh Irma ngga mengingatkan aku seperti itu, sudah aku ajak ribut tuh laki.

Akhirnya sampai juga, Jalan masuk ke rumah Ukh Irma gelaaaaaf bingits. Sampai merinding ini bulu kucing. Lah mana ada kucing? Ketinggalan kali di dalam elf

Sesampainya di rumah ukh Irma, seneng banget. Ada kucing! Aku kasih kucing Ukh Irma, Wiskas yang aku beli di Borma. Hehe. Kucingnya lahap gile. Laper, mang?😀

Di rumah Ukh Irma, aku ditawarin banyak makanan sama ibunya. Nasi sama lauk belum habis, malah disuruh nambah. Yah padahal lapernya udah the end. Tapi, Namanya rezeki jangan ditolak ya? Hehe. Sikat!

Waktu semakin larut, aku diajak ngobrol sama Ibu dan bapaknya Ukh Irma, nanyanya banyak. Aku jawabnya singkat-singkat, tapi untungnya mereka ngga bales singkat-singkat. Yeuh emangnya sms.

Setelah malam semakin menunjukkan gelapnya, kami semua bergegas menuju kamar tidur masing-masing. Aku tidur sama Ukh Irma ya? Bukan sama kucing, oemji gimana coba rasanya kalo tidur sama kucing. Ih meuni so sweet!

Aku ngga sahur, soalnya sedang itu. Hayo apa?

Paginya, aku bantuin Ukh Irma nyuci. Bukan bantuin sih, tapi cuma ngeliatin aja. Ya atuh mau bantuin gimana? Setiap aku mau bantu, ukh Irma ngelarang, seakan-akan aku seorang yang terhormat dan dilindungi dari kepunahan. Eh dikira margasatwa langka! Huft.

Selesai mencuci, aku dan Ukh Irma jalan-jalan keliling Papandayan. Ngga sampai puncaknya kok, Cuma sampai hati kamu aja. Alah!

Setelah lelah berjalan-jalan, aku dan Ukh Irma berhenti di sebuah masjid, di sana kita saling bercengkerama indah sambil memandang Gunung Ciparay dari kejauhan. Indahnya, Masyaa Allah. Mahakarya Allah is Good.

Waktu telah menunjukkan pukul 8 lewat, aku harus bersiap-siap untuk pulang ke Bandung. Selama perjalanan menuju terminal Garut, ada rasa ngga ingin berpisah dulu dari Ukh Irma. Udah lama ngga ketemu, sekalinya ketemu hanya satu hari satu malam aja. Tetapi aku sangat bersyukur karena Allah masih mengizinkan pertemuan ini. aku berharap dapat bertemu lagi di lain waktu. Insyaa Allah.

Sesampainya di terminal Garut, Ukh Irma mengantarku mencari bus kuning jurusan Bandung yang berhenti di Terminal Cicaheum. Sebuah lagu diputar ghaib…

Tetes air mata

basahi pipiku

di saat kita kan berpisah.

Terucapkan janji padamu kasihku, takkan kulupakan dirimu

Begitu beratnya, kau lepas diriku

Sebut namaku jika kau rindukan aku

Aku akan tidur. Zzzzz…

Ini penyanyi sama judul lagunya lupa. Eh pas buka winamp di netbook, dicari-cari ngga ketemu karena udah lupa dahsyat sama nama penyanyi sama judul lagunya. Setelah diurut satu persatu dengan mata hati dan cinta (Asek!) akhirnya ketemu juga.

Dan aku menulis cerita ini sambil mendengarkan lagu tersebut dengan…

Dengan apa?

Dengan telingaku dong.

Masa telinga bokap

Ha!

Sudah dulu ya? Inilah kisah 24 jamku di Garut. Walaupun beda beberapa menit, setidaknya sama-sama jam 10. Ah apasih, meuni didetail-detaikan begitu.

Makalah Prosedur Penerimaan Perkara di Pengadilan Agama

PROSEDUR PENERIMAAN PERKARA DI PENGADILAN AGAMA

MAKALAH

Diajukan Untuk Memenuhi Tugas Kuliah Hukum Acara Peradilan Agama I yang Diampu Oleh Dr. H. Acep Saefuddin, S.H, M.Ag

uin

Disusun Oleh:

Ridha Eka Rahayu (1143010092) 

AHWAL AL-SYAKHSHIYYAH PERADILAN ISLAM

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI

SUNAN GUNUNG DJATI

B A N D U N G

2016

 

DAFTAR ISI

BAB 1 PENDAHULUAN                                                                                                    3

  1. Latar Belakang 3
  2. Rumusan Masalah 3

BAB 2 PEMBAHASAN                                                                                                       4

  1. Tahap Pembuatan Gugatan 4
  2. Tahap Pembayaran Panjar 5
  3. Pendaftaran 6
  4. Penetapan Majelis Hakim (PMH) 8
  5. Penentuan Hari Sidang (PHS) 9
  6. Pemanggilan Para Pihak 10

BAB 3 PENUTUP                                                                                                                12

  1. Kesimpulan 12
  2. Saran 12

DAFTAR PUSTAKA                                                                                                          13

 

 

 BAB 1

PENDAHULUAN

  1. Latar Belakang

Pengadilan Agama merupakan salah satu penyelenggara kekuasaan kehakiman yang memberikan layanan hukum bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 3 tahun 2006 dan Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009. Susunan organisasi Kepaniteraan Pengadilan Agama terdiri dari empat unsur, yaitu Sub atau urusan kepaniteraan permohonan, sub atau urusan kepaniteraan gugatan, sub atau urusan kepaniteraan hukum, dan kelompok tenaga fungsional kepaniteraan.

Untuk melaksanakan tertib administrasi perkara di Pengadilan Agama dan dalam rangka penyelenggaraan administrasi peradilan yang seragam, baik, dan tertib. Ketua Mahkamah Agung RI dengan suratnya tertanggal 24 Januari 1991 No. KMA/001/SK/1991 telah menetapkan pola-pola pembinaan dan pengendalian administrasi perkara.

Untuk dapat mengetahui proses penyelesaian perkara yang diajukan kepada Pengadilan Agama, dalam tulisan ini pembahasan akan difokuskan pada pola prosedur penerimaan perkara di Pengadilan Agama.

2. Rumusan Masalah

  1. Bagaimana Tahap Pembuatan Gugatan?
  2. Bagaimana Tahap Pembayaran Panjar?
  3. Bagaimana Tata Cara Pendaftaran Perkara?
  4. Bagaimana Penetapan Majelis Hakim (PMH)?
  5. Bagaimana Penentuan Hari Sidang (PHS)?
  6. Bagaimana Pemanggilan Para Pihak?

 

 

BAB 2

PEMBAHASAN

  1. Tahap Pembuatan Gugatan

Pada prinsipnya, prosedur penerimaan perkara di Pengadilan Agama ditentukan dengan model unit, yang disebut meja satu, meja dua, meja tiga yang masing-masing unit mempunyai tugas dan tanggung jawab sendiri-sendiri tetapi berkaitan satu dengan yang lain. Pelaksanaan tugas unit-unit ini dilakukan oleh Sub Kepaniteraan Perkara di bawah pengamatan langsung Wakil Panitera.

Meja Satu

  1. Menerima gugatan dan permohonan, termasuk permohonan banding, kasasi, PK, maupun eksekusi, dengan catatan bahwa permohonan verzet tegen verstek tidak didaftar sebagai perkara baru, tetapi denden verzet didaftar sebagai perkara baru.
  2. Menaksir biaya yang dituangkan dalam SKUM
  3. Menyerahkan surat gugat/permohonan, permohonan banding, kasasi, PK, maupun eksekusi, yang telah dilengkapi dengan SKUM kepada yang bersangkutan agar membayar biaya panjar perkara kepada pemegang kas.
  4. Pemegang kas (Kasir) adalah bagian dari meja pertamayang bertugas antara lain:
  5. Menerima dan membukukan uang panjar biaya perkara yang tercantum pada SKUM ke dalam jurnal keuangan yang bersangkutan (nomor jurnal dengan nomor perkara)
  6. Mengeluarkan dan membukukan/mencatat uang biaya administrasi dan biaya proses perkara
  7. Seminggu sekali pemegang kas harus menyerahkan uang hak-hak kepaniteraan kepada bendahara penerima untuk disetorkan ke Kas Negara, yang dicatat pada kolom 13 KI-PA8
  8. Pencatatan masuk keluarnya uang perkara dalam buku induk keuangan dilakukan oleh panitera atau staf yang ditunjuk.

 

Meja Dua

Pada pokoknya Meja Dua ini bertugas untuk:

  1. Mendaftar perkara yang masuk ke dalam buku register induk perkara perdata sesuai dengan nomor perkara yang tercantum pada SKUM/surat gugatan/permohonan. Pendaftaran perkara baru dapat dilaksanakan setelah panjar biaya perkara lunas dibayar pada Pemegang Kas
  2. Mengisi kolom-kolom buku register dengan tertib, rapi, teliti, dan cermat, seperti misalnya tentang PHS, penundaan sidang, sebab penundaan sidang, amar putusan, PBT, dsb.
  3. Menyerahkan berkas perkara yang diterima yang telah dilengkapi formulir Penetapan Majelis Hakim (PMH) kepada Wakil Panitera untuk diteruskan kepada Ketua Pengadilan Agama (KPA)
  4. Menyerahkan berkas perkara yang telah ditentukan majelis hakimnya kepada Ketua Majelis Hakim yang ditunjuk disertai formulir Penetapan Hari Sidang (PHS)

 Meja Tiga, Secara garis besar bertugas:

  1. Menyiapkan dan menyerahkan salinan putusan apabila ada permintaan dari para pihak.
  2. Menerima dan memberikan tanda terima atas: memori/kontra memori banding, memori/kontra memori kasasi, jawaban/tanggapan atas alasan PK
  3. Menyusun/menjahit/mempersiapkan berkas (tugas pembundelan berkas)
  4. Mengatur giliran tugas jurusita/jurusita pengganti yang ditunjuk oleh panitera.[1]

2. Tahap Pembayaran Panjar

Pembayaran panjar perkara dilakukan di bagian pemegang kas. Kas merupakan bagian dari meja 1. Seluruh kegiatan pengeluaran perkara harus melalui pemegang kas dan dicatat secara tertib dalam buku induk yang bersangkutan. Tugas-tugas pemegang kas adalah:

  1. Pemegang kas menerima pembayaran uang panjar perkara sebagaimana tersebut dalam SKUM
  2. Pemegang kas menandatangani SKUM, membubuhi nomor urut perkara dan tanggal penerimaan perkara dalam SKUM dan dalam surat gugatan/permohonan sebagaimana tersebut dalam buku jurnal yang berkaitan dengan perkara yang diajukan.
  3. Mengembalikan asli atau tindasan pertama SKUM beserta surat gugatan/permohonan kepada calon penggugat/pemohon.[2]

3

3. Pendaftaran

Sebelum Perkara diproses oleh Pengadilan Agama, maka terlebih dahulu perkara tersebut harus didaftarkan dahulu oleh pihak pencari keadilan ke Kepaniteraan Pengadilan Agama setempat. Adapun alur atau tahap proses pendaftaran perkara pada Pengadilan Agama adalah sebagai berikut:

Pertama:
Pihak berperkara datang ke Pengadilan Agama dengan membawa surat gugatan atau permohonan.

Kedua:
Pihak berperkara menghadap petugas Meja Satu dan menyerahkan surat gugatan atau permohonan, minimal 3 (tiga) rangkap. Untuk surat gugatan ditambah sejumlah Tergugat.

Ketiga:
Petugas Meja Satu (dapat) memberikan penjelasan yang dianggap perlu berkenaan dengan perkara yang diajukan dan menaksir panjar biayaperkara yangkemudian ditulis dalam Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM). Besarnya panjar biaya perkara diperkirakan harus telah mencukupi untuk menyelesaikan perkara tersebut, didasarkan pada pasal 182 ayat (1) HIR atau pasal 90 Undang Undang Republik Indonesia Nomor 50 Tahun 2009 Tentang Perubahan Kedua Atas Undang Undang Nomor : 7 Tahun 1989 Tentang Peradilan Agama.

Catatan:

  1. Bagi yang tidak mampu/miskin dapat diizinkan berperkara secara prodeo (cuma-cuma). ketidakmampuan tersebut dibuktkan dengan melampirkan Surat Keterangan Miskin atau  Tidak Mampu dari Lurah atau Kepala desa setempat yang dilegalisasi oleh Camat.
  2. Bagi yang tidak mampu maka panjar biaya perkara ditaksir Rp. 0,00,- dan ditulis dalam Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM), didasarkan pasal 237-245 HIR.
  3. Dalam tingkat pertama, para pihak yang tidak mampu atau berperkara secara prodeo. Perkara secara prodeo ini ditulis dalam surat gugatan atau permohonan bersama-sama (menjadi satu) dengan gugatan perkara. Dalam posita surat gugatan atau permohonan disebutkan alasan penggugat atau pemohon untuk berperkara secara prodeo dan dalam petitumnya

Keempat:
Petugas meja satu menyerahkan kembali surat gugatan atau permohonan kepada pihak berperkara disertai dengan Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) dalam rangkap 3 (tiga).

Kelima:
Pihak berperkara menyerahkan kepada pemegang kas (KASIR) surat gugatan atau permohonan tersebut dan Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM).

Keenam:
Pemegang kas menyerahkan asli Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) kepada pihak berperkara sebagai dasar penyetoran panjarbiayaperkara ke bank yangtelah ditunjuk oleh Pengadilan Agama tersebut.

Ketujuh:
Pihak berperkara datangke loket layanan bank dan mengisi slip penyetoran panjar biaya perkara. Pengisian data dalam slip bank tersebut sesuai dengan Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM), seperti nomor urut, dan besarnya biaya penyetoran. Kemudian pihak berperkara menyerahkan slip bank yang telah diisi dan menyetorkan uang sebesar yang tertera dalam slip bank tersebut.

Kedelapan:
Setelah pihak berperkara menerima slip bank atau kuitansi penyetoran yang telah divalidasi dari petugas layanan bank, pihak berperkara menunjukkan slip bank tersebut dan menyerahkan Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) kepada pemegang kas.

Kesembilan:
Pemegang kas setelah meneliti slip bank kemudian menyerahkan kembali kepada pihak berperkara. Pemegang kas kemudian memberi tanda lunas dalam Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) dan menyerahkan kembali kepada pihak berperkara asli dan tindasan pertama Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM) serta surat gugatan atau permohonan yang bersangkutan.

Kesepuluh:
Pihak berperkara menyerahkan kepada petugas Meja Dua surat gugatan atau permohonan sebanyak jumlah tergugat ditambah 2 (dua) rangkap serta tindasan pertama Surat Kuasa Untuk Membayar (SKUM).

Kesebelas:
Petugas Meja Dua mendaftar mencatat surat gugatan atau permohonan dalam register bersangkutan serta memberi nomor register pada surat gugatan atau permohonan tersebut yang diambil dari nomor pendaftaran yang diberikan oleh pemegang kas.

Kedua belas:

Petugas Meja Dua menyerahkan kembali 1 (satu) rangkap surat gugatan atau permohonan yang telah diberi nomor register kepada pihak berperkara.

Pendaftaran Selesai

Pihak  yang berperkara akan dipanggil oleh Jurusita atau Jurusita Pengganti untuk menghadap ke persidangan setelah ditetapkan Susunan Majelis Hakim (PMH) dan hari sidang pemeriksaan perkaranya (PHS).

Catatan:
Pengambilan Akta Cerai pada Pengadilan Agama tidak dipungut biaya, kecuali biaya untuk Kas Negara sebesar Rp 10.000,- (PP No.53 Tahun 2008).[3]

4. Penetapan Majelis Hakim (PMH)

Penetapan majelis hakim Yaitu penunjukan Majelis Hakim melalui suatu penetapan Penunjukan Majelis Hakim (PMH) oleh    Ketua Pengadilan.[4]

Penetapan Majelis Hakim, (1) Dalam waktu 3 (tiga) hari kerja setelah proses registrasi perkara diselesaikan, Petugas Meja dua menyampaikan berkas gugatan/permohonan kepada Wakil Panitera untuk disampaikan kepada Ketua Pengadilan melalui Panitera, (2) Selambat-lambatnya dalam waktu 3 (tiga) hari kerja ketua pengadilan menetapkan Majelis Hakim yang akan menyidangkan perkara tersebut.[5]

Penetapan Majelis Hakim/Hakim:

  1. Penyerahan berkas gugatan dari panitera setelah didaftar dalam register induk perkara kepada ketua pengadilan dalam waktu 3 (tiga) hari kerja.
  2. Ketua pengadilan dalam waktu 3 (tiga) hari kerja, sudah menunjuk majelis hakim/hakim yang memeriksa perkara yang bersangkutan.
  3. Apabila ketua pengadilan berhalangan sementara maka wewenang tersebut dilaksanakan oleh wakil ketua atau didelegasikan kepada hakim senior.
  4. Penunjukan majelis hakim/hakim dilaksanakan secara adil, dan tidak membeda-bedakan majelis hakim/hakim yang satu dengan majelis hakim/hakim yang lain.
  5. Ketua/wakil ketua pengadilan selalu menjadi ketua majelis, sedangkan untuk majelis lain ditetapkan hakim yang senior.
  6. Susunan majelis hakim ditetapkan secara tetap untuk jangka waktu tertentu.
  7. Ketua dan wakil ketua pengadilan selalu menjadi ketua majelis, sedang untuk majelis yang lain, ketua majelisnya adalah hakim senior yang ada.
  8. Terhadap perkara tertentu, ketua pengadilan dapat membentuk majelis khusus.
  9. Berkas perkara paling lama 7 (tujuh) hari kerja sejak didaftar di buku register sudah diserahkan kepada majelis hakim/hakim yang akan memeriksa perkara tersebut.[6]

 5. Penentuan Hari Sidang (PHS)

Penentuan Hari Sidang Yaitu penetapan hari akan dilaksanakan sidang yang dituangkan dalam suatu Penetapan Hari Sidang (PHS) oleh Ketua Majelis Hakim. Kemudian Juru sita pengganti memanggil para pihak untuk hadir ke persidangan pada hari yang telah ditetapkan Ketua Majelis Hakim dengan menggunakan relas   panggilan.

  1. Dalam waktu satu minggu setelah menerima berkas perkara majelis hakim/hakim menentukan hari sidang.
  2. Setiap majelis hakim/hakim mempunyai jadwal persidangan yang tetap.
  3. Penetapan hari sidang, dimusyawarahkan dengan sesama anggota majelis hakim dan dicatat dalam buku agenda masing-masing.
  4. Dalam menetapkan hari sidang yang disertai pemanggilan kepada para yang berperkara, oleh majelis hakim/hakim memperhatikan jauh dekatnya tempat tinggal para pihak dengan letaknya tempat persidangan.
  5. Lama tenggang waktu antara pemanggilan para pihak dengan sidang paling sedikit 3 (tiga) hari kerja, kecuali dalam hal-hal yang mendesak (Pasal 122 HIR/Pasal 146 RBg).
  6. Apabila suatu perkara gugatan disertai dengan permohonan sita jaminan, majelis hakim/hakim setelah bermusyawarah dapat membuat penetapan pelaksanaan sita bersamaan dengan panggilan pertama kepada para pihak untuk menghadiri sidang, apabila cukup alasan untuk itu.
  7. Pemeriksaan perkara cerai dilakukan selambat-lambatnya 30 (tiga puluh) hari sejak tanggal surat guguatan/permohonan didaftarkan di Pengadilan Agama. (Pasal 68 (1) dan 80 (1) UU No. 7/1989).[7]

6. Pemanggilan Para Pihak

Pihak-pihak yang beperkara akan dipanggil oleh juru sita/juru sita pengganti untuk menghadap ke persidangan setelah adanya Penetapan Majelis Hakim (PMH) dan Penetapan Hari Sidang (PHS). Pemanggilan pihak-pihak harus memenuhi ketentuan hukum acara yang berlaku agar sah (panggilan sah harus bersifat resmi dan patut).

  1. Panggilan para pihak untuk menghadiri persidangan disampaikan oleh jurusita/jurusita pengganti.
  2. Jurusita/Jurusita pengganti melaksanakan panggilan berdasarkan perintah dari majelis yang diwujudkan 133 dalam instrumen panggilan yang ditandatangani oleh ketua majelis.
  3. Instrumen panggilan disampaikan kepada kasir, supaya Jurusita/jurusita pengganti untuk mendapatkan ongkos pemanggilan berdasarkan radius yang telah ditetapkan oleh ketua pengadilan.
  4. Ongkos panggilan dikeluarkan kasir pada hari pelaksanaan panggilan oleh jurusita/jurusita pengganti.
  5. Panggilan disampaikan kepada pihak yang dipanggil ditempat tinggalnya relaas panggilan ditanda tangani oleh pihak yang dipanggil.
  6. Apabila jurusita/jurusita pengganti tidak bertemu dengan pihak yang dipanggil, panggilan disampaikan melalui kepala desa/kepala kelurahan yang bersangkutan. Kepala desa menandatangani relas panggilan dan dibubuhi cap desa.
  7. Relas panggilan yang disampaikan melalui kepala desa redaksi kalimatnya disesuaikan dengan kenyataan yang ada.
  8. Satu relaas panggilan untuk satu orang pihak yang dipanggil.
  9. Surat panggilan kepada tergugat untuk sidang pertama menyebutkan adanya penyerahan sehelai salinan surat gugatan dan pemberitahuan kepada pihak tergugat, bahwa ia boleh mengajukan jawaban tertulis dalam sidang.
  10. Jika yang dipanggil tidak diketahui tempat tinggalnya atau dimana ia berada, panggilan dilakukan kepada Bupati/ Walikota tempat tinggal penggugat dengan cara menempelkan pada papan pengumuman. Pengumuman serupa dilakukan dipapan pengumuman pengadilan.
  11. Khusus panggilan gaib untuk perkara Cerai Gugat/Talak disampaikan melalui mas media surat kabar/elektronik sebanyak dua kali panggilan. Tenggang waktu panggilan pertama dengan panggilan kedua selama satu bulan, 134 sedang tenggang waktu panggilan kedua dengan hari persidangan selama tiga bulan.
  12. Jika yang dipanggil telah meninggal dunia, maka panggilan dilakukan kepada ahli warisnya. Dan bila ahli warisnya tidak dikenal, maka panggilan dilakukan kepada Bupati/Walikota tempat tinggal penggugat.[8]

 

 

 

BAB 3

PENUTUP

  1. Kesimpulan

Pengadilan Agama merupakan salah satu penyelenggara kekuasaan kehakiman yang memberikan layanan hukum bagi rakyat pencari keadilan yang beragama Islam mengenai perkara perdata tertentu yang diatur dalam Undang-undang Nomor 7 tahun 1989 tentang Peradilan Agama yang telah diubah dengan Undang-undang Nomor 3 tahun 2006 dan Undang-undang Nomor 50 Tahun 2009. Jadi prosedur penerimaan perkara di Pengadilan Agama terdiri dari:

  1. Tahap Pembuatan Gugatan
  2. Tahap Pembayaran Panjar
  3. Pendaftaran
  4. Penetapan Majelis Hakim (PMH)
  5. Penentuan Hari Sidang (PHS)
  6. Pemanggilan Para Pihak

 2. Saran

Di dalam penulisan makalah ini, penulis mengakui bahwasanya banyak terdapat kekurangan dan kesalahan. Itu semua tidak terlepas dari masih minimnya ilmu dari penulis. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran dari Dosen pembimbing pada khususnya, dan pembaca pada umumnya. Dan pada akhirnya penulis mengucapkan terima kasih atas kritik dan sarannya, semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi penulis pribadi, dan kita pada umumnya, Aamiin.

 

 DAFTAR PUSTAKA

Dr. H. Ramdani Wahyu, M.Ag, M.Si. 2011. Administrasi Islam di Indonesia. Bandung

Dr. Jaih Mubarok, M.Ag. 2004. Peradilan Agama di Indonesia. Bandung: Pustaka Bani Quraisy

Ropaum Rambe. 2010. Hukum Acara Perdata Lengkap. Jakarta: Sinar Grafika

 

______. 2014. ProsedurPendaftaran Perkara di Pengadilan Agama,  http://belimbing08.com /index/article/prosedur-pendaftaran-perkara-di-pengadilan-agama

Lovely. 2012. Hukum Acara Peradilan Agama. http://lovelycules.blogspot.co.id/2012/06/ hukum-acara-peradilan-agama.html

Pengadilan Agama Kraksaan, http://www.pa-kraksaan.go.id/index.php/layout/tupoksi.html

Pengadilan Agama Praya, http://www.pa-praya.go.id/index.php?option=comcontent&view= article&id=15&Itemid=111

Pengadilan Agama Sampit, http://www.pa-sampit.go.id/index.php?option=comcontent& view=article&id=62&Itemid=243

Pengadilan Negeri Banda Aceh, Tatacara Pemeriksaan Administrasi Persidangan. http://pn-bandaaceh.go.id/wp-content/uploads/TATA-CARA-PEMERIKSAAN-ADMINISTRASI-PERSIDANGAN.pdf

Vyvaldy. 2012. Persiapan Persidangan. https://saveandsound.wordpress.com/2012/02/10/ persiapan-persidangan/

[1] Dr. H. Ramdani Wahyu, Administrasi Islam di Indonesia, (Bandung, 2011), hlm. 93-94

[2]Dr. Jaih Mubarok, M.Ag, Peradilan Agama di Indonesia. (Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004), hlm. 76-77

[3] ________. 2014. ProsedurPendaftaran Perkara di Pengadilan Agama,  http://belimbing08.com/index/article/ prosedur-pendaftaran-perkara-di-pengadilan-agama (Diakses pada selasa 13 september 2016 Pukul 16:10 WIB)

[4] Vyvaldy. 2012.Persiapan Persidangan. https://saveandsound.wordpress.com/2012/02/10/persiapan-persidangan/ (Diakeses pada selasa 13 september 2016 pukul 17:45 WIB)

[5]Lovely. 2012. Hukum Acara Peradilan Agama. http://lovelycules.blogspot.co.id/2012/06/hukum-acara-peradilan-agama.html (Diakses pada selasa, 13 September 2016 pukul 17:30 WIB)

[6] Pengadilan Negeri Banda Aceh, Tatacara Pemeriksaan Administrasi Persidangan. http://pn-bandaaceh.go.id/wp-content/uploads/TATA-CARA-PEMERIKSAAN-ADMINISTRASI-PERSIDANGAN.pdf (Diakses pada selasa 13 september 2016 pukul 17:55 WIB)

[7] Pengadilan Negeri Banda Aceh,  op. cit.,

[8] Ibid.,

Cerpen: Pedagang yang Shaleh

Pedagang yang Shaleh

(Ridha Eka Rahayu)

Di sebuah rumah sederhana pinggiran desa, Ahmad dan ibunya tinggal. Mereka telah lama ditinggal oleh sang kepala keluarga sejak Ahmad masih berusia satu tahun. Kini Ahmad telah menjadi siswa kelas empat Sekolah Dasar di desanya. Untuk mencukupi kebutuhan hidup dan biaya sekolah Ahmad, sang ibu berjualan jamu gendong. Uang yang di dapat memang tidak seberapa, namun mereka tetap merasa bahagia.

Ahmad pun ikut membantu ibunya, setiap pulang dari sekolah ia berjualan tahu dari pabrik tetangganya. Setiap tempe yang akan dijual Ahmad, biasanya dijatah 100 potong dengan harga jual Rp. 500/potong.

Suatu pagi, setelah shalat shubuh, Ahmad tidak mendengar kesibukan ibunya di dapur. Biasanya setiap pagi, beliau selalu memasak tahu atau tempe untuk sarapan pagi sekaligus mengemas jamu-jamu untuk persiapan berjualan.

Ia menuju kamar ibunya dan terkejut melihat kondisi ibunya yang terkulai lemas. Ahmad menghampiri sang ibu kemudian menyentuh kening ibunya. Panas.

“Ahmad, kamu ngga usah panik ya? Hari ini ibu masih kuat jualan.”

“Ngga usah, Bu. Ibu kan lagi sakit. Ibu istirahat saja ya?”

“Kalau ibu tidak jualan, nanti kita makan pakai apa?”

“Ibu tenang saja. Ibu ngga boleh mendzalimi diri. Insyaa Allah hari ini, sepulang sekolah nanti Ahmad akan ke pabrik tahu meminta tambahan tahu untuk dijual.”

Ibunya hanya tersenyum sambil membelai rambut anaknya. “Hati-hati ya, Nak?” Pesan sang ibu.

“Mohon do’anya ya, Bu?” Pinta Ahmad.

Ibunya hanya menganggukkan kepala, Ahmad bergegas merapikan perlengkapan sekolahnya dan menyiapkan sarapan.

Setelah memasak tahu sisa jualan kemarin, Ahmad menghampiri ibunya. “Bu, makan dulu yuk?” Ajak Ahmad kepada sang ibu.

Setelah sarapan bersama, Ahmad pamit berangkat ke sekolah. Jarak dari rumah ke sekolah cukup jauh. Ia hanya mengandalkan sepeda satu-satunya yang biasa dipakai untuk berjualan tahu keliling.

Sepulang dari sekolah, Ahmad menuju ke rumah untuk berganti pakaian kemudian menuju pabrik tahu tetangganya. “Pergi dulu ya, Bu? Assalamu’alaikum.” Ahmad pamit kepada ibunya.

“Wa’alaikumsalam.” Balas sang ibu dengan senyumah tulusnya.

Sesampainya di pabrik tahu, biasanya Pak Kardi, pemilik pabrik tahu sudah menyetok jatah jualan untuk Ahmad. Namun kali ini Ahmad ingin menambah stok jualannya.

“Pak, boleh minta tambahan tahu ngga? Hari ini ibu sakit. Jadi ngga bisa jualan jamu.”

Karena Pak Kardi sudah kenal dekat dengan Ahmad, maka ia dibolehkan menambah stok jualan. “Kamu mau tambah berapa, Nak?” Tanya Pak Kardi.

“Tambah 10 potong saja, Pak.”

“Baiklah, Nak.” Kemudian Pak Kardi mengambil persediaan tahu untuk dibawa Ahmad sebanyak 110 potong.

Biasanya Ahmad berjualan keliling desa sampai alun-alun kota. Ia bersyukur karena selalu mendapat respon positif dari orang-orang di sekitarnya.

Seperti biasa, menjelang sore jualan habis atau pun tidak, ia tidak pernah lupa untuk bersedekah kepada seorang pengemis tua di sudut alun-alun serta beberapa orang yang membutuhkannya.

Jam dinding besar di alun-alun kota telah menunjukkan pukul 17:00 WIB, waktunya selesai berjualan kemudian kembali ke pabrik tahu untuk menyetor hasil jualan tahu kepada Pak Kardi. Namun, sebelum kembali ke pabrik tahu, Ahmad tak pernah lupa menyisihkan uang hasil jualannya untuk disedekahkan kepada pengemis tua di sudut alun-alun tersebut.

Setelah memberikan sedekah biasanya sang pengemis tua hanya mengucapkan terima kasih, tetapi kini ia bertanya kepada Ahmad. “Nak, saya sering melihatmu berjualan tahu di alun-alun ini dan sepulang berjualan kau sering menyisihkan uang untuk diberikan kepadaku. Memangnya berapa keuntungan yang kamu dapat?” Tanya pengemis tua penasaran penuh kagum.

Dengan tersenyum Ahmad menjawab, “Sepulang sekolah saya ke pabrik tahu untuk menyetok tahu, biasanya saya mendapat jatah 100 potong. Tetapi hari ini ibu saya sakit, jadi saya meminta tambahan 10 tahu. Keuntungan saya tidak banyak, kek. Dari pabriknya, sepotong tahu dijual 300 rupiah dan saya menjual dengan harga 500 rupiah. Saya sangat bersyukur kepada Allah atas rezeki saya dapatkan. Maka rasa syukur itu saya sedekahkan kepada kakek.” Ujar Ahmad menjelaskan.

“Loh, keuntunganmu saja sedikit, mengapa engkau memberi kepada orang lain? Apakah cukup untuk biaya hidup keluargamu?”

“Justru itu, kek. Allah menyuruh kita bersedekah dalam keadaan lapang maupun sempit. Allah Maha Kaya. Saya tidak takut miskin karena saya percaya kepada Allah.”

Kakek itu tersenyum sambil menahan air mata, “Terima kasih banyak, Nak. Engkau memberi banyak pelajaran kepada saya.”

“Sama-sama, kek. Saya pulang dulu ya? Sudah saatnya saya harus menyetor uang hasil jualan.

“Iya, Nak.” Ujar kakek itu sembari menundukkan kepalanya.

Kehidupan Ahmad yang serba kekurangan, tidak membuatnya pelit terhadap sesama. Walau pun begitu, ia dan ibunya masih merasa cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, termasuk pembayaran SPP sekolah Ahmad yang tidak pernah telat. Mereka tetap bahagia meski pun hidup serba kekurangan, karena yang mereka tahu, Allah selalu bersama dengan para hamba-hamba-Nya yang bersabar serta ikhlas.

 

Ridha Eka Rahayu, atau akrab dipanggil Ridha adalah anak pertama kelahiran Temanggung yang kini menjadi Mahasiswi UIN Sunan Gunung Djati Bandung. Ingin menyambung ukhuwah dengan penulis? Add ridhaekarahayu@yahoo.com atau Facebook: Ridha Eka R. dapat dihubungi juga di Nomor 089601176706/085860063296. Selain senang menulis, Ridha juga senang kucing loh. Hihi #Kode

Jangan Pergi, Saudariku

Saudari Muslimahku…

❤ Malam semakin larut, suasana semakin sunyi, yang terdengar hanya desiran angin menerpa pepohonan dan satu dua kendaraan yang masih berlalu lalang di depan baiti jannati. Jarum jam yang berdetak semakin menambah kesenyapan malam dan mataku belum lagi dapat terpejam. Masih teringat jelas semua ucapanmu dan masih melekat dengan kuat. Hampir saja aku kehilangan sesuatu yang sangat berharga dalam hidup. Yang akan menjadikan bumi terasa sempit, dada terasa sesak, langkah semakin berat dan tubuh pun lemah tak bertenaga, yaitu kamu.

❤ Tak terasa waktu berlalu begitu cepat. Tak teringat lagi sudah berapa lama kita bersama dalam persaudaraan ini. Semangatmu, tutur katamu, tatapanmu dan juga senyummu sering menjadi cermin bagiku untuk tetap tegar dalam melangkah di jalan Islam ini. Kebahagiaan yang kau rasakan adalah kebahagiaanku juga, kesedihan yang kau rasakan adalah kesedihanku juga, dan  lemahnya dirimu pun dapat melemahkan diriku.

❤ Persaudaraan  karena Allah yang dilandasi semangat ta’awun dan tanashshuh ini, Insyaa Allah akan abadi. Bahkan kelak, Allah Ta’ala akan memberikan naungan pada saat tidak ada lagi tempat bernaung selain naungan-Nya. Orang-orang yang saling mencintai dan bersaudara karena Allah, disediakan bagi mereka mimbar-mimbar dari cahaya. Sebaliknya, persaudaraan tanpa dilandasi keimanan pada Allah, akan menjadi musuh satu sama lain kelak di Padang Mahsyar.

❤ Kita membutuhkan persaudaraan yang kuat, ukhuwah yang utuh dan tidak mudah goyah apalagi hanya karena prasangka belaka. Berbaik sangka adalah modal utama dalam menjaga ukhuwah. Kita hanyalah manusia biasa yang tak luput dari kesalahan. Apa yang terjadi di antara kita adalah sesuatu yang sunatullah. Akan ada saja hal yang dapat menguji kesabaran dan keimanan kita. Ketika ada masalah diantara kita, marilah kita selesaikan dengan musyawarah dan kekeluargaan. Jangan sampai buruk sangka membuat kita kehilangan kesabaran dan akal sehat kita. Sehingga persaudaraan akan berubah menjadi permusuhan dan memunculkan rentetan penyakit hati lainnya. Jika ada hal yang mengganjal atau datang seseorang membawa berita yang tidak mengenakkan, segeralah kita mentabayyun masalah tersebut langsung kepada sumbernya. Jangan sampai kita menjadi tentara-tentara syetan untuk Qiila wa Qoola, menceritakan aib saudara kita tanpa memperjelasnya terlebih dahulu.

❤ Marilah kembali rekatkan ukhuwah di antara kita. Membangun kembali persaudaraan yang hampir retak, berjalan bersama menuju keridhaan Allah. Jalan ‘amr ma’ruf nahy mungkar terbentang luas di hadapan kita.

❤ Betapa bahagianya, ketika melihat senyum kembali merekah, memancarkan sinar keikhlasan dari hati yang saling memaafkan. Always keep smile, Ukht! “Senyummu di hadapan saudaramu adalah shadaqah,”

❤ Saudariku…

Tak terasa waktu telah beranjak meninggalkan pertengahan  malam. Tiba saatnya bagi orang-orang yang khusyu’ dan Ikhlas untuk menghadap Sang Khaliq. Bermunajat dalam dekapan malam, melantunkan bait-bait doa dan Istighfar. Melatih jiwa dan hati untuk mencintai akhirat

❤ Semoga Allah Azza wa Jalla berkenan mengampuni dosa-dosa kita semua, baik yang tampak maupun yang tersembunyi, baik yang kita sadari maupun yang tidak kita sadari. Betapa sering kita melalaikannya, sementara waktu terus berjalan melesat jauh ke depan. Hanya kepada Allah, kembalinya segala urusan.

Wallahu Waliyyut Taufiq. Kuakhiri risalah cinta ini untukmu,

Jangan pergi, Saudariku

Sebab jika kau pergi, aku dengan siapa?

Hijab is Modesty

Hijab

(Oki Setiana Dewi)

Hijab . . .

Beberapa tahun belakangan ini, di Indonesia sering sekali terdengar kata hijab

Lalu apakah hijab itu sebenarnya?

Hijab adalah penutup,

Hijab adalah penghalang,

Hijab adalah tabir,

Dalam hijab, kita mengenal adanya jilbab, jilbab adalah sebuah pakaian longgar yang kemudian ditambah dengan khimar atau kerudung untuk para wanita muslimah, para wanita yang mengaku cinta kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala

Saya jadi teringat beberapa tahun yang lalu, ketika saya masih berada di “Zaman Jahiliyyah”. Saya sangat bahagia dan bangga, ketika banyak orang memuji saya. Ketika mereka mengatakan, “Bagus sekali kamu dengan pakaian seperti ini,”

Saya mengenakan pakaian-pakaian terbuka pada saat itu

Sampai kemudian pada satu titik, kemudian saya berfikir “Ya, memang cantik di mata manusia, tapi ternyata saya tidak cantik di mata Allah. Semua terkesan melihat saya, namun semua itu tidak ada artinya di mata Allah,”

Bagi teman-teman muslimah yang belum berhijab, yang masih ragu untuk menutupi dirinya dengan hijab. Kenapa harus menunda lagi?

Banyak sekarang orang mengatakan, “Lebih baik hatinya dulu dijilbab, kemudian baru raganya,”

Kenapa kita tidak ubah paradigma itu?

Mari kita katakan,”Bismillah Yaa Allah, saya berhijab. Mudah-mudahan dengan hijab ini,saya menjadi hamba yang taat kepada-Mu, hamba yang senantiasa menjalankan perintah-perintah-Mu, Yaa Allah,”

Kalau menunggu menghijabkan hati dulu, mau sampai kapan? Karena manusia terus berbuat salah, terus berbuat salah, terus berbuat salah

Bagi teman-teman muslimah yang masih belum berkeinginan untuk berhijab. Kenapa?

Apakah takut tidak mendapatkan pekerjaan?

Percayalah bahwa rizki itu tidak pernah tertukar, tidak perlu bergantung kepada manusia. Allah telah memberi rizki kepada masing-masing setiap orang. Jadi, jangan pernah takut untuk itu

Tidak mungkin ketika kita menjalankan perintah Allah, lalu Allah mengabaikan kita. Justru sebaliknya, ketika kita berjalan menuju ke arah Allah, Allah akan “berlari” menuju kita. Allah akan menyambut kita. Akan ada beribu tangan yang siap membantu kita

Untuk teman-teman muslimah yang masih masih belum berhijab. Kenapa?

Takut tidak cantik lagi?

Percayalah bahwa laki-laki yang baik, tidak akan mau wanita yang dicintainya dinikmati oleh setiap pasang mata. “Kamu itu cantik, tapi bukan konsumsi publik,”

Kenapa tidak juga berhijab?

Takut dilarang orang tua atau suamikah? Ya, kita harus taat kepada mereka. Tetapi kita tidak perlu taat kepada mereka, ketika mereka tidak taat akan perintah Allah subhanahu wa Ta’ala

Allah hanya ingin wanita dimuliakan, Allah hanya ingin wanita dihargai

Bagi teman-teman muslimah yang sudah berhijab, Alhamdulillahi Rabbil ‘alamiin. Banyak-banyak bersyukur kepada Allah. Karena Allah telah memilih kita di antara semua wanita untuk berhijab, untuk menutupi aurat kita, untuk menutupi keindahan kita, dan hanya bisa dilihat oleh orang-orang yang berhak untuk melihat kita

Tapi berhijab saja tidak cukup, menutupi aurat luar saja tidak cukup, karena ada yang harus dilakukan setelah kita memutuskan untuk berhijab

Apa itu?

“Belajar bagaimana cara memakai hijab yang diperintahkan oleh Allah,”

Dalam Qs. Al-Ahzab ayat 59, Allah mengatakan, “Hai Nabi, Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya  ke seluruh tubuh mereka, yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenal, karena itu mereka tidak diganggu, dan Allah adalah Maha Pengampun, lagi Maha Penyayang.”

Artinya apa?

Jilbab berfungsi sebagai pelindung, bukan penghias. Semakin kita menghiasi diri kita dan berusaha menarik perhatian orang agar seluruh mata menuju ke arah kita, semakin kita menghilangkan esensi hijab yang sebenarnya

Hijab is Modesty, Hijab adalah kesederhanaan

Memakai hijab adalah bukti cinta kita kepada Allah, memakai hijab adalah bukti malu kepada Allah, memakai hijab adalah bagi muslimah yang senantiasa ingin menuju ke arah Allah

Hijab adalah pakaian wanita-wanita muslimah yang ingin menjaga kemuliaan dirinya dengan kebersahajaannya

Sekali lagi, hijab adalah keserhanaan, dia bukan penghias, dia adalah pelindung diri kita untuk menjadi wanita-wanita mulia, wanita-wanita penghuni syurga, Insyaa Allah.

Toko yang Menjual Istri

Di suatu daerah, sebuah toko yang menjual istri baru telah dibuka di mana pria dapat memilih wanita untuk dijadikan sebagai seorang istri.

Di antara instruksi-instruksi yang ada di pintu masuk, terdapat instruksi yang menunjukkan bagaimana aturan main untuk masuk toko tersebut: “Kamu hanya dapat mengunjungi toko ini SATU KALI!”

Toko tersebut terdiri dari 6 lantai dimana setiap lantai akan menunjukkan kelompok calon istri.

Semkn tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai wanita tersebut. Kamu dapat memilih wanita di lantai tertentu atau lebih memilih ke lantai berikutnya, tapi dengan syarat tidak bisa turun lagi ke lantai sebelumnya kecuali untuk keluar dari toko.

Lalu, seorang pria pun pergi ke ” TOKO ISTRI ” tersebut untuk mencari istri. Di setiap lantai terdapat tulisan seperti ini:

Lantai 1:
“Wanita di lantai ini taat pada Tuhan dan pandai memasak.”

Pria itu tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.

Lantai 2:

“Wanita di lantai ini taat pada Tuhan, pandai memasak, dan lemah lembut.”

Kembali pria itu naik ke lantai selanjutnya.
Lantai 3:
“Wanita di lantai ini taat pada Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, dan cantik.”

”Wow!”, ujar sang pria, tetapi pikirannya masih penasaran dan terus naik.

Lalu sampailah pria itu di lantai 4 dan terdapat tulisan:

“Wanita di lantai ini taat pada Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget, dan sayang anak.”

”Ya ampun!” Dia berseru, ”Aku hampir tak percaya!”

Dan dia tetap mlanjutkan ke lantai 5:

“Wanita di lantai ini taat pada Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, cantik banget, sayang anak, dan seksi.”

Dia tergoda untuk berhenti tapi kemudian dia melangkah ke lantai 6, dan terdpt tulisan:

“Anda adalah pengunjung yg ke 4.363.012.000. Tidak ada wanita di lantai ini. Lantai ini hanya semata-mata pembuktian untuk pria yg tidak pernah puas.”

Terima kasih telah berbelanja di ” TOKO ISTRI “. Mohon hati-hati ketika keluar dari sini.

Pesan moral ini bukan hanya untuk pria tetapi juga untuk wanita: “Tetaplah slalu merasa puas akan pasangan yang sudah Allah sediakan. Jangan terus mencari yang terbaik tetapi jadikanlah yang ada yang terbaik buat anda, karena Tuhan sudah sediakan, itulah pasangan yang terbaik bagi kamu seumur hidupmu hingga kematian memisahkan.