Setetes Hikmah Kisah Dari Cairo

Seorang Syekh yang bijak dan alim lagi berjalan-jalan santai bersama salah seorang di antara murid-muridnya di sebuah taman…

Di tengah-tengah asyik berjalan sambil bercerita, keduanya melihat sepasang sepatu yang sudah usang lagi lusuh. Mereka berdua yakin kalau itu adalah sepatu milik pekerja kebun yang bertugas di sana, yang sebentar lagi akan segera menyelesaikan pekerjaannya.

Sang murid melihat kepada syekhnya sambil berujar:

“Bagaimana kalau kita candai tukang kebun ini dengan menyembunyikan sepatunya, kemudian kita bersembunyi di belakang pohon-pohon? Nanti ketika dia datang untuk memakai sepatunya kembali, ia akan kehilangannya. Kita lihat bagaimana dia kaget dan cemas!”

Syekh yang alim dan bijak itu menjawab:

“Ananda, tidak pantas kita menghibur diri dengan mengorbankan orang miskin. Kamu kan seorang yang kaya, dan kamu bisa saja menambah kebahagiaan untuk dirinya. Sekarang kamu coba memasukkan beberapa lembar uang kertas ke dalam sepatunya, kemudian kamu saksikan bagaimana respon dari tukang kebun miskin itu”.

Sang murid sangat takjub dengan usulan gurunya. Dia langsung saja berjalan dan memasukkan beberapa lembar uang ke dalam sepatu tukang kebun itu. Setelah itu ia bersembunyi di balik semak-semak bersama gurunya sambil mengintip apa yang akan terjadi dengan tukang kebun.

Tidak beberapa lama datanglah pekerja miskin itu sambil mengibas-ngibaskan kotoran dari pakaiannya. Dia menuju tempat sepatunya ia tinggalkan sebelum bekerja. Ketika ia mulai memasukkan kakinya ke dalam sepatu, ia menjadi terperanjat, karena ada sesuatu di dalamnya. Saat ia keluarkan ternyata…….uang. Dia memeriksa sepatu yang satunya lagi, ternyata juga berisi uang. Dia memandangi uang itu berulang-ulang, seolah-olah ia tidak percaya dengan penglihatannya.

Setelah ia memutar pandangannya ke segala penjuru ia tidak melihat seorangpun. Selanjutnya ia memasukkan uang itu ke dalam sakunya, lalu ia berlutut sambil melihat ke langit dan menangis. Dia berteriak dengan suara tinggi, seolah-olah ia bicara kepada Allah ar rozzaq :

“Aku bersyukur kepada-Mu wahai Robbku. Wahai Yang Maha Tahu bahwa istriku lagi sakit dan anak-anakku lagi kelaparan.
Mereka belum mendapatkan makanan hari ini.
Engkau telah menyelamatkanku, anak-anak dan istriku dari celaka”.

Dia terus menangis dalam waktu cukup lama sambil memandangi langit sebagai ungkapan rasa syukurnya atas karunia dari Allah Yang Maha Pemurah. Sang murid sangat terharu dengan pemandangan yang ia lihat di balik persembunyiannya. Air matanya meleleh tanpa dapat ia bendung.

Ketika itu Syekh yang bijak tersebut memasukkan pelajaran kepada muridnya :

“Bukankah sekarang kamu merasakan kebahagiaan yang lebih dari pada kamu melakukan usulan pertama dengan menyembunyikan sepatu tukang kebun miskin itu?”

Sang murid menjawab:

“Aku sudah mendapatkan pelajaran yang tidak akan mungkin aku lupakan seumur hidupku. Sekarang aku baru paham makna kalimat yang dulu belum aku pahami sepanjang hidupku:
“Ketika kamu memberi kamu akan mendapatkan kebahagiaan yang lebih banyak dari pada kamu mengambil”.

Sang guru melanjutkan pelajarannya.
Dan sekarang ketahuilah bahwa pemberian itu bermacam-macam :

• Memaafkan kesalahan orang di saat mampu melakukan balas dendam adalah suatu pemberian.

• Mendo’akan temanmu muslim di belakangnya (tanpa sepengatahuannya) itu adalah suatu pemberian.

• Berusaha berbaik sangka dan menghilangkan prasangka buruk darinya juga suatu pemberian.

• Menahan diri dari membicarakan aib saudaramu di belakangnya adalah pemberian lagi.

Ini semua adalah pemberian, supaya kesempatan memberi tidak dimonopoli oleh orang-orang kaya saja. jadikanlah semua ini pelajaran.

Sumber: Kajian Kisah dan Sejarah Islam via Status Nasehat

Antara Pujian dan Koreksi Diri

Alhamdulillah. Segala puji hanya milik Alloh Swt. Semoga Alloh Yang Maha Adil lagi Maha Bijaksana, menggolongkan kita sebagai umat akhir zaman yang selamat di dunia dan akhirat. Sholawat dan salam semoga selalu tercurah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Alloh Swt. berfirman, “..dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (QS. An Najm [53] : 32)

Saudaraku, wajar jika kita merasa senang ketika ada orang lain yang memuji kita, menyebut kita sebagai orang sholeh, baik hati, dermawan, pintar, atau sederet sebutan-sebutan lainnya. Akan tetapi, yang perlu kita waspadai adalah jika pujian-pujian tersebut sebenarnya tidak ada pada diri kita. Sedangkan ketika datang orang yang mengomentari kita apa adanya, memberi koreksian untuk kita, kita cenderung menolaknya.

Nah, inilah yang perlu kita renungkan ketika kita lebih mencari orang yang memuji kita ketimbang orang yang mau menyampaikan kepada kita tentang diri kita yang sebenarnya. Dan, kita cenderung akan lebih tidak suka manakala ada orang yang menyampaikan secara langsung kepada kita tentang kekurangan atau keburukan kita.

Padahal kalau kita renungkan, pujian yang datang selalu berpeluang melenakan kita. Dan, semakin berbahaya jika sebenarnya pujian itu tidak sesuai dengan diri kita yang sebenarnya. Sedangkan orang yang berbicara apa adanya, menyampaikan kekurangan-kekurangan kita, memberi koreksi kepada kita, ini lebih berpeluang menjadikan kita lebih baik lagi. Karena kita memperoleh informasi tentang bagaimana diri kita dalam pandangan orang lain, yang sangat mungkin selama ini tidak kita sadari. Sehingga akhirnya kita bisa memperbaiki diri.

Semoga kita semakin bijaksana menyikapi pujian dan komentar orang lain terhadap kita. Yakinlah bahwa setiap kejadian mutlak karena izin Alloh, termasuk datangnya orang lain yang memberikan pujian dan komentar tentang kita. Semoga kita termasuk hamba-hamba Alloh yang senantiasa memperbaiki diri.Aamiin yaa Robbal’aalamiin.[]

Oleh: KH. Abdullah Gymnastiar ( Aa Gym )
Beliau adalah pengasuh pondok pesantren Daarut Tauhiid Bandung – Jakarta.

Izinkan Anak Melewati Kesulitan Hidupnya

Kita tidak pernah tahu, anak kita akan terlempar ke bagian bumi Allah yang mana nanti, maka izinkanlah dia belajar menyelesaikan masalahnya sendiri.
Jangan memainkan semua peran, ya jadi ibu, ya jadi koki, ya jadi tukang cuci. ya jadi ayah, ya jadi supir, ya jadi tukang ledeng.

Anda bukan anggota tim SAR!
Anak anda tidak dalam keadaan bahaya. *Tidak ada sinyal S.O.S!*
Jangan selalu memaksa untuk membantu dan memperbaiki semuanya.

‪#‎Anak‬ mengeluh karena mainan puzzlenya tidak bisa nyambung menjadi satu, *”Sini…Ayah bantu!”.*

‪#‎Tutup‬ botol minum sedikit susah dibuka, *”Sini…Mama saja”.*

‪#‎Tali‬ sepatu sulit diikat, *”Sini…Ayah ikatkan”.*

‪#‎Kecipratan‬ sedikit minyak
*”Sudah sini, Mama aja yang masak”.*

Kapan anaknya bisa?

Kalau bala bantuan muncul tanpa adanya bencana, “Apa yang terjadi ketika bencana benar-benar datang?”

Berikan anak-anak kesempatan untuk menemukan solusi mereka sendiri.

Kemampuan menangani stress, menyelesaikan masalah, dan mencari solusi, merupakan keterampilan/skill yang wajib dimiliki.

Dan skill ini harus dilatih untuk bisa terampil, Skill ini tidak akan muncul begitu saja hanya dengan simsalabim!

Kemampuan menyelesaikan masalah dan bertahan dalam kesulitan tanpa menyerah bisa berdampak sampai puluhan tahun ke depan.

Bukan saja bisa membuat seseorang lulus sekolah tinggi,
tapi juga lulus melewati ujian badai pernikahan dan kehidupannya kelak.

Tampaknya sepele sekarang…
Secara apalah salahnya kita bantu anak?

Tapi jika anda segera bergegas mnyelamatkannya dari segala kesulitan, dia akan menjadi ringkih dan mudah layu.

*Sakit sedikit, mengeluh.*
*Berantem sedikit, minta cerai.*
*Masalah sedikit, jadi gila.*

Jika anda menghabiskan banyak waktu, perhatian, dan uang untuk IQ nya, maka habiskan pula hal yang sama untuk “AQ” nya.

AQ?
Apa itu?
*ADVERSITY QUOTIENT*

Menurut Paul G. Stoltz,
“AQ” adalah kecerdasan menghadapi kesulitan atau hambatan dan kemampuan bertahan dalam berbagai kesulitan hidup dan tantangan yang dialami.*

Bukankah kecerdasan ini lebih penting daripada IQ, untuk menghadapi masalah sehari-hari?

Perasaan mampu melewati ujian itu luar biasa nikmatnya.
Bisa menyelesaikan masalah, mulai dari hal yang sederhana sampai yang sulit, membuat diri semakin percaya bahwa meminta tolong hanya dilakukan ketika kita benar2 tidak sanggup lagi.

So, izinkanlah anak anda melewati kesulitan hidup…

Tidak masalah anak mengalami sedikit luka, sedikit menangis, sedikit kecewa, sedikit telat, dan sedikit kehujanan.

Tahan lidah, tangan dan hati dari memberikan bantuan.
Ajari mereka menangani frustrasi.

Kalau anda selalu jadi ibu peri atau guardian angel,
*Apa yang terjadi jika anda tidak bernafas lagi esok hari?*

Bisa-bisa anak anda ikut mati.

Sulit memang untuk tidak mengintervensi,
Ketika melihat anak sendiri susah, sakit dan sedih.

Apalagi menjadi orangtua, insting pertama adalah melindungi,
Jadi melatih AQ ini adalah ujian kita sendiri juga sebagai orangtua.

Tapi sadarilah, hidup tidaklah mudah, masalah akan selalu ada.
Dan mereka harus bisa bertahan. Melewati hujan, badai, dan kesulitan,
yang kadang tidak bisa dihindari

Oleh : Ibu Elli Risman (Psikolog Dan Konsultan Senior

Pacaran? Adakah Dalam Islam?

Assalamu’alaikum, banyak orang yang masih mempertimbangkan keinginannya untuk berhijrah, mengapa? Kebanyakan karena masih berhadapan dengan status yang namanya Pacaran.

Pacaran? Sadarlah wahai sahabatku. Pacaran itu tidak ada di dalam Islam, iya agama kita yang sangat dicintai ini.

Kenapa sih masih saja berpacaran? Takut nanti hidupnya merasa kesepian? Bukankah kita pernah menjadi seseorang yang tidak memiliki pacar sebelumnya? Nah, itu karena faktor nafsu kita saja sahabat. Ingin memiliki tapi tak ingin memberi kepastian. Sama saja ingin membeli buah namun dicicipi dulu terus berfikir lagi karena rasanya apakah pas dimulut dan pas dihati.

Jadi? Apakah kita ingin menjadi perumpamaan yang saya tadi sebutkan? Kalau tidak mau? Yuk! sempurnakan langkah kita untuk berhijrah. Lepaskan apa yang tak pantas hadir di kehidupan kita (ex:Pacar) dan pelajari lebih dalam tentang apa-apa yang harus dilakukan dan wajib sebagai seorang muslim/muslimah sesungguhnya.
Memang, awalnya merasa kehilangan pasti ada namun lebih rugi lagi kalau kita kehilangan cinta dari Allah SWT. Pacaran itu tak memiliki dampak positif dikehidupan kita termasuk untuk amalan kita, bukannya menambah pahala tapi memberi dosa. Paham?

Kontribusi oleh @amaliahrh

Tempe dan Telur Gosong Buatan Ibu

Malam yang dingin disapu gerimis dan kabut tipis, membuat saya mengigil kedinginan. Saya teringat dengan masakan ibu di malam itu dengan kondisi yang serupa.
Ibu yang bangun sejak pagi, tak kenal lelah bekerja keras sepanjang hari. Ia membereskan rumah tanpa pembantu, hingga tiba jam makan malam pun ibu masih saja sibuk sendiri di dapur kecil kami.
Tepat jam tujuh malam ibu selesai menghidangkan makan malam untuk ayah, sangat sederhana, berupa telur mata sapi, tempe goreng, sambal teri dan nasi.
Sayangnya, karena sibuk mengurusi adik yang merengek, tempe dan telor gorengnya sedikit gosong.
Saya melihat ibu sedikit panik, tapi tidak bisa berbuat banyak. Minyak goreng pun sudah habis.
Kami menunggu dengan tegang, apa reaksi ayah yang pulang kerja? Sudah capek, kemudian melihat makan malamnya hanya dengan tempe dan telur gosong.
Namun sungguh luar biasa! Ayah dengan tenang menikmati dan memakan semua yang disiapkan ibu dengan senyuman yang tak hilang dari pandangan.
Ayah bahkan berkata, “Bu terima kasih ya!” Lalu ayah juga menanyakan kegiatan saya dan adik di sekolah.
Selesai makan, masih di meja makan, saya mendengar ibu meminta maaf karena telor dan tempe yang gosong itu.
Dan satu hal yang tidak pernah saya lupakan adalah apa yang ayah katakan:
“Sayang, aku suka telor dan tempe yang gosong.”
Sebelum tidur, saya pergi ke kamar ayah dan bertanya, “Apakah ayah benar-benar menyukai telur dan tempe gosong?”
Ayah memeluk saya dengan kedua lengannya erat sekali sambil berkata, “Anakku, ibu sudah bekerja keras sepanjang hari dan dia benar-benar sudah capek. Jadi, sepotong telor dan tempe yang gosong tidak akan menyakiti siapa pun anakku.”
Ini pelajaran yang saya praktikkan di tahun-tahun berikutnya, “Belajar menerima kesalahan orang lain adalah kunci yang sangat penting untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat, bertumbuh & abadi.”
Ingatlah! Bahwa emosi tidak akan pernah menyelesaikan masalah yang ada, jadi selalulah berpikir dewasa. Mengapa sesuatu hal itu bisa terjadi? Pasti punya alasannya sendiri.
Janganlah kita menjadi orang yang egois dan hanya ingin dimengerti, tapi tidak ingin mengertikan orang lain.
Tua itu pasti, tapi dewasa itu pilihan.

[Reportase9.blogspot.com]

Catatan Hati Seorang Akhawat

:::Catatan Hati Seorang Akhawat:::

Bismillah.

Izinkan aku bicara dari hati seorang wanita, yang mungkin bisa mewakili suara saudari-saudariku, para akhawat pada umumnya.

Proses ’ta’aruf’ merupakan suatu proses awal menuju proses selanjutnya, yaitu khitbah dan akhirnya sebuah pernikahan. Memang tidak semua sukses sampe tahap itu. “Sang Sutradaralah” yang mengatur. Semua adalah skenario dan rekayasaNya. Manusia hanya berencana dan ikhtiar, keputusan tetap dalam genggamanNya. Tapi kita manusia juga diberi pilihan. Hidup adalah pilihan. Mau baik atau buruk, mau surga atau neraka, mau sukses atau gagal, semua adalah pilihan. Namun tetap Allah Yang Maha Menentukan.

Aku ingin titip pesan pada para ikhwan yang sudah memutuskan hendak melontarkan perkataan ’ta’aruf’ pada seorang akhwat;

Bagi para ikhwan, pikirkanlah baik-baik, matang-matang, dan masak-masak sebelum menawarkan sebuah jalinan bernama ta’aruf. Jangan mudah melontarkannya jika tak ada komitmen dan kesungguhan untuk meneruskannya. Mengertilah keadaan akhawat. Antum tahu, bahwa sifat kaum hawa itu lebih sensitif. Akhawat mudah sekali terbawa perasaan. Disadari atau tidak, diakui atau tidak, akhawat adalah makhluk yang kadang mudah sekali Ge’Er, suka disanjung, suka diberi pujian apalagi diberi perhatian lebih.

Jadi saat kata ta’aruf atau mungkin khitbah itu keluar dari lisan seorang lelaki baik dan shalih seperti antum, tak ada alasan bagi akhawat untuk menolak. Karena jika akhawat menolak tanpa alasan yang jelas, maka hanya fitnah yang ada. Jadi, tolong tanyakan lagi pada diri antum, apakah kata-kata itu memang keluar dari lubuk hati antum yang terdalam? Apakah antum sudah memohon petunjuk kepada yang Maha Menguasai Hati? Apa antum benar-benar siap (ilmu, iman, mental, fisik, materi, dll) untuk menjalin ikatan suci bernama pernikahan? Sekali lagi, berhati-hatilah dengan kata ta’aruf. Karena ta’aruf adalah gerbang menuju pernikahan.

Proses ’ta’aruf’ menuju pernikahan memerlukan sebuah rentang waktu tertentu. Bila diibaratkan ta’aruf adalah pintu halaman ruman antum dan pernikahan adalah pintu rumah antum, kemudian timbul pertanyaan, berapa jauhkah jarak pintu gerbang menuju pintu rumah antum? padahal selama perjalanan akan banyak cobaan menghadang. Bunga-bunga indah di halaman rumah antum bisa membuat akhawat terpesona. Kolam ikan yang indah juga membuat akhawat terlena. Ingin sekali akhawat memetiknya, ingin sekali akhawat berlama-lama di sana menikmati keindahan dan kenikmatan yang antum sajikan. Tapi tidak berhak, karena belum mendapat izin dari si empunya rumah.

Akhawat ingin segera mencapai sebuah keberkahan, tapi di tengah jalan antum menyuguhkan keindahan-keindahan yang membuat akhawat lupa akan tujuan semula. Lebih menyakitkan lagi jika antum membuka gerbang itu lebar-lebar dan akhwatpun menyambut panggilan antum dengan hati berbunga-bunga. Tapi setelah akhawat mendekat dan sampai di depan pintu rumah antum, ternyata pintu rumah antum masih tertutup. Bahkan antum tak berniat membukakannya. Saat itulah hati akhawat hancur berkeping-keping. Setelah semua harapan terangkai, tapi kini semua runtuh tanpa sebuah kepastian. Atau mungkin antum akan membukakannya, tapi kapan? Antum bilang jika saatnya tepat. Lalu antum membiarkan akhawat menunggu di teras rumah antum dengan suguhan yang membuat akhwat kembali terbuai, tanpa ada sebuah kejelasan. Jangan biarkan akhawat berlama-lama di halaman rumah antum jika memang antum tak ingin atau belum siap membukakan pintu untuknya. Akhawat akan segera pulang karena mungkin saja salah alamat. Siapa tahu rumah antum memang bukan tempat berlabuhnya hati mereka. Ada rumah lain yang siap menjadi tempat bernaung mereka dari teriknya matahari dan derasnya hujan di luar sana. Mereka tak ingin mengkhianati calon suami mereka yang sebenarnya. Di istananya ia menunggu calon bidadarinya. Menata istananya agar tampak indah. Sementara mereka berkunjung dan berlama-lama di istana orang lain.

Akhi, sebelum ijab qobul itu keluar dari lisan antum, cinta adalah cobaan. Cinta itu akan cenderung pada nafsu. Cinta itu akan cenderung untuk mengajak berbuat maksiat . Itu pasti! Langkah-langkah syetan yang akan menuntunnya. Kita tentunya tdk mau memakai label ‘ta’aruf untuk membungkus suatu kemaksiatan bukan? Hati-hatilah dengan hubungan ta’aruf yang menjelma menjadi TTM (Ta’aruf Tapi Mesra). Tolong hargai akhwat sebagai saudara antum. Akhwat bukan kelinci percobaan. Akhwat punya perasaan yang tidak berhak antum buat ’coba-coba’. Pikirkanlah kembali. Mintalah petunjukNya. Jika antum memang sudah siap dan merasa mantap, segera jemput mereka.

Dan satu lagi yang perlu antum perhatikan adalah bagaimana cara antum menjemput. Tentunya kita menginginkan kata ’berkah’ di awal, di tengah, sampai di ujung pernikahan kan? Hanya ridha dan keberkahanNya lah yang menjadi tujuan. Pilihlah cara yang tepat dan berkah. Antum sudah merasa mantap pada akhawat itu. Antum yakin seyakin-yakinnya bahwa dialah bidadari yang akan menghias istana antum. Tapi antum tidak menggunakan cara yang tepat untuk menjemputnya. Sama halnya jika antum yakin dan mantap untuk menuju Surabaya. Tapi dari Jakarta antum salah memilih kendaraan, akibatnya antum gak akan pernah sampai ke Surabaya, malah nyasar. Atau kendaraannya sudah bener tapi nggak efektif. Terlalu lama di perjalanan. Masih keliling-keliling dulu. Akhirnya banyak waktu terbuang percuma selama perjalanan. Jadi, antum juga harus memikirkan cara yang baik/ahsan, tepat dan berkah agar bahtera rumah tangga antum berjalan di atas ridha dan keberkahanNya.

Semoga pesan ini bisa menjadi bahan renungan antum, para ikhwan, calon qowwam kami (para akhawat) dalam mengarungi bahtera rumah tangga Islami yang akan melahirkan generasi penyeru dan pembela agama Allah. Akhirnya aku minta maaf, afwan jiddan bila dalam pesan ini ada hal-hal yg kurang ahsan.

[khoirunnisa-syahidah.blogspot.com]

 

Ketika Masuk Mobil, Disarankan Agar Tidak Langsung Menyalakan AC

🚘 Kota-kota di Indonesia saat ini sangat panas, ketika masuk mobil jangan langsung menyalakan AC.☀

🚗 Udara dari semprotan AC bercampur dengan udara dalam mobil yang ‘ngelekep/pengap’ bisa menimbulkan udara yang menyebabkan kanker, bila dihirup.

🚕 Mau naik mobil? O.K. boleh, buka semua kaca, lalu nyalakan AC selama beberapa menit, baru kemudikan kendaraan tersebut dapat ditutup kaca-kacanya kembali

🚗 Tidak heran, semakin banyak orang meninggal karena kanker.

Kita bertanya-tanya dari mana saja penyebabnya?

🚗 Disini ada sebuah contoh yang menjelaskan insiden-insiden yang dapat menyebabkan kanker.

🚗 Menurut sebuah penelitian, dashboard mobil,sofa, pengharum mobil bisa menghasilkan Benzene, racun penyebab kanker (karsinogen).

🚗 Luangkanlah waktu dan amatilah bau plastik dashboard yang terkena panas.

🚗 Selain menyebabkan Kanker, Benzene meracuni tulang-tulang anda, menyebabkan Anemia dan menurunkan jumlah sel darah putih. Bila terhirup terus-menerus dalam jangka waktu yang lama dapat menyebabkan Leukemia,  menambah resiko penyebab kanker.

🚗 Tingkat Benzene di dalam ruangan yang bisa ditoleransi sebesar 50mg/ft2.

🚗 Sebuah mobil yang terparkir di dalam ruangan dengan jendela tertutup akan mengandung 400-800 mg Benzene.

🚗Jika parkir di luar ruangan dibawah sinar matahari pada temperatur 15 derajat ke atas, tingkat Benzene naik hingga 2000-4000 mg, 40X dari tingkat Benzene yang bisa ditoleransi.

🚗 Orang-orang yang sewaktu masuk ke dalam mobil, tidak membuka jendela sama sekali, berakibat akan menghirup banyak racun yang dengan sangat cepat masuk ke dalam tubuh anda.

Benzene adalah racun yang mempengaruhi ginjal dan hati. Buruknya, sangatlah sulit bagi tubuh untuk membasmi racun-racun tersebut.

🚗 Jadi bukalah pintu dan jendela mobil sebelum anda masuk dan berilah waktu untuk racun-racun yg mematikan ini keluar, sebelum anda masuk ke dalam mobil.

✍ Sumber: Toyota Auto2000